Tandaseru — Dua juru bicara pasangan calon (paslon) nomor urut 1 dan 2 Pemilihan Kepala Daerah Kepulauan Sula, Maluku Utara, menanggapi pernyataan calon Bupati Kepsul nomor urut 3, Fifian Adeningsi Mus saat berkampanye di Desa Man Gega, Kecamatan Sanana Utara, Selasa (6/10).
Jubir paslon Hendrata Thes-Umar Umabaihi (HT-UMAR) dan Zulfahri Abdullah Duwila-Ismail Umasugi (ZADI-IMAM) menganggap pernyataan Fifian yang bilang paslon nomor 1 dan 2 tak pantas memimpin Kepsul hanyalah bahasa politik menyetir isu murahan.
Juru bicara HT-UMAR Faruk Bahanan kepada tandaseru.com menyatakan, pernyataan Fifian dalam orasi politiknya merupakan hal biasa dalam berpolitik.
“Itu hal biasa. Kami anggap hanya bahasa politik dari seorang kandidat saja, dan itu menurut penilaian beliau, bukan masyarakat. Yang menilai dan memilih kan masyarakat,” ujarnya, Sabtu (10/10).
Terkait periodesasi kepemimpinan HT yang juga cabup petahana yang dijadikan indikator pernyataan tersebut, Faruk bilang, kepemimpinan kandidatnya itu tidak seperti yang dikatakan paslon nomor urut 3.
“Tidak benar seperti dikatakan kandidat paslon nomor 3. Banyak hal yang sudah dilaksanakan,” ungkapnya.
Faruk juga memaparkan beberapa prestasi yang dilakukan jagoannya itu, di antaranya akses jalan di dua pulau sudah terpenuhi, pelayanan air bersih, jaringan telekomunikasi dan jaringan listrik yang mampu menerangi Kepulauan Sula.
“Lebih penting lagi prestasi kandidat kami yang belum pernah diraih oleh pemerintah sebelumnya (kepemimpinan Bupati Ahmad Hidayat Mus, red) adalah predikat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dalam pengelolaan keuangan dari Pemerintah Pusat,” tegasnya.
Status daerah tertinggal yang ditetapkan Pemerintah Pusat terhadap Kabupaten Kepulauan Sula dan Kabupaten Pulau Taliabu, sambungnya, hanyalah penilaian sementara. Itupun tidak sesuai realitas di lapangan.
“Soal Sula dan Taliabu serta kabupaten lainnya di Provinsi Malut dengan status daerah tertinggal, itu hanya bersifat penilaian sementara saja. Tetapi itu bukan berarti bahwa kita di Sula benar-benar tertinggal, karena realitasnya tidak demikian. Penilaian ini hanya berdasarkan data-data yang terbaca di Jakarta saja,” terang Faruk.
Terpisah, Jubir Zulfahri Duwila, Kuswandi Buamona menilai apa yang disampaikan Fifian dalam kampanyenya tidak mempengaruhi elektabilitas ZADI-IMAM. Terkait kasus Masjid Desa Pohea yang disebut-sebut Fifian ada hubungannya dengan Zulfahri, Kuswandi menegaskan itu hanyalah isu murahan yang sengaja dihembuskan Fifian.
“Kami dari tim ZADI-IMAM menganggap itu adalah isu murahan dan tidak berpengaruh bagi paslon nomor 2. Untuk masalah Masjid Pohea, itu sudah ranah hukum. Saya juga terlibat dalam mengawal masalah Masjid Pohea, jadi saya hanya mau bilang, banyak kerja, kurangi bacot,” tukas Kuswandi.
Sebelumnya, Fifian dalam orasi politiknya di Desa Man Gega menyatakan HT-UMAR maupun ZADI-IMAM tak pantas memimpin Sula.
“Jadi 1 dan 2 itu sama, seng (tidak, red) pantas pimpin kita di Sula ini. Yang pantas pimpin kita di Sula ini orang-orang yang keras, yang berjuang, yang tulus mau lihat sanohi-sanohi (saudara-saudara, red) yang ada di dua pulau ini, dan yang ada kali ini cuma ada di nomor 3. Kami berdua ini birokrasi murni yang tulus akan berjuang bersama-sama rakyat yang ada di Kabupaten Kepulauan Sula,” tukas Fifian.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.