Oleh: Suhardy Hamid Rajji
Pengurus Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) Malut dan Relawan Rumah Baca Belo-Belo Haltim
“SAAT menutup mata, yang kulihat adalah kau. Hanya benar-benar kau. Dapatkah aku mendapat ciuman itu lagi? Pelukan ketika khawatir rintik hujan dapat menembus jaket raincoat hitam pemberianmu…”
“6 tahun kita pacaran, Kak… Dan sampai sekarang kita belum juga melangkah dari kondisi pertama di mana kita saling kenal dulu. Kita masih saja pacaran.”
Kalimat-kalimat ini telah kudengar berulangkali dalam setiap kesempatan pertemuan, telepon, chat WhatsApp, video call, dan semua hari-hariku satu tahun terakhir ini. Belum lagi kode-kodean dalam status di berbagai platform medsos, story dan semua itu yang bikin sangat frustasi. Kadang aku memilih untuk acuh daripada harus membela diri dan bakal berujung pertengkaran hebat dua pemuda kurang kerjaan.
“Kak, tahun ini aku 26 tahun, Kak… Aku cewek.”
“Terus kalau kamu cewek kenapa, Wi? Aku yang cowok aja biasa kok dan kamu juga harus tahu, sekarang umur aku 29. Woles aja.”
Kalimat ini hanya terlintas di kepalaku. Tidak kuutarakan langsung ke Tiwi. Aku ini pemuda yang akan segera menuju puber kedua, harus lebih bijak menanggapi seruan perang macam itu.
“Kamu itu kalau sudah begini, pura-pura dengar lagu lah, main game lah… macam-macam cara untuk menghindarnya. Kak, buka headsetnya dulu!!! Serius nanggapinnya.”
“Iya, Wi, aku dengar kok. Emang selama ini siapa coba yang paling setia mendengar semua nasehatmu? Aku, Wi. Tidak ada orang di dunia ini yang sesetia aku dalam melayani semua,,,”
“Kak, serius!!! Jangan bercanda, Kak. Jujur, aku mulai capek dengan hubungan kita yang tidak ada kejelasannya ini,” Tiwi memotong candaanku barusan.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.