Tandaseru — Tenun sukses menjadi “pelarian” Aldo (30 tahun) selama menjalani masa pemasyarakatan di Rumah Tahanan Soasio, Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara.
Pria bernama asli Saharuddin itu mulai menjalani masa tahanannya sejak Oktober 2022. Hari-hari di balik jeruji besi terasa begitu panjang dan menjemukan.
Hingga suatu hari tim Rumah Tenun Puta Dino Kayangan datang melakukan pelatihan di rutan. Aldo tak punya latar belakang menjahit apalagi menenun. Namun ia langsung jatuh cinta pada proses pemintalan kapas menjadi benang, pewarnaan benang, penghanian, pengikatan motif, hingga penenunan.
Tenun Puta Dino Kayangan adalah sebuah gerakan budaya sekaligus merek lokal yang berhasil menghidupkan kembali kain tenun adat Kesultanan Tidore yang sempat punah dan hilang selama hampir 100 tahun. Dalam bahasa Tidore, “Puta Dino” memiliki arti kain tenun.

Karena tradisi menenun di Tidore telah hilang selama satu abad, tim Puta Dino Kayangan harus mencari dan merekonstruksi motif tenun dari nol. Mereka menelusuri sejarah hingga ke Museum Leiden di Belanda untuk mempelajari foto-foto kain adat Tidore masa lalu. Guna menghidupkan kembali teknik pembuatannya, mereka belajar langsung dan mendatangkan peralatan tenun dari Jepara, Jawa Tengah.
Beberapa motif khas yang berhasil direvitalisasi Puta Dino Kayangan antara lain Marasante, Jodati, Nyili Mou, Malila, Haimole, Tobaru, Barakati, Laha-Laha, dan Gomode Mabunga.
Aldo mengikuti beberapa kali pelatihan menenun. Dukungan rutan terhadap minat dan bakatnya juga tak kalah besar. Saat Puta Dino Kayangan menggelar pelatihan di rumah tenun, Aldo diantarkan petugas rutan untuk mengikuti pelatihan itu.
“Dukungan mereka untuk saya sangat besar. Kesempatan itu membuat saya makin mudah belajar,” ungkap Aldo, Sabtu (26/9/2026).
Tenun pertama yang dihasilkan Aldo adalah sebuah selendang. Selendang tersebut belakangan dibeli seorang diplomat Jerman yang bertugas di Kedutaan Besar Jerman di Indonesia.

Selama 4 tahun belajar tenun di tiap kesempatan yang bisa ia dapatkan, semangat Aldo membuat hati Anita Gathmir, founder Puta Dino Kayangan, tersentuh. Anita pun mengajak Aldo bergabung di Rumah Tenun Puta Dino Kayangan.
Pada 17 September 2026, Aldo resmi bebas dari Rutan Soasio. Pria asal Sulawesi Selatan itu langsung dijemput penenun Puta Dino Kayangan.
“Awalnya sempat bingung kalau keluar mau ke mana. Alhamdulillah dipercaya gabung ke rumah tenun,” ujar Aldo.
Di rumah tenun, aktivitas Aldo dimulai pukul 8 pagi hingga pukul 5 sore. Selain selendang, ia juga mulai belajar menenun kain. Aldo selamanya akan berterima kasih pada Anita atas kesempatan kedua yang didapatnya.
“Saya sangat senang dan bersyukur sekali diajak bergabung di Rumah Tenun Puta Dino. Bagi saya ini bukan hanya tentang pekerjaan, tapi sebuah kehormatan bisa ikut melestarikan budaya tenun Tidore. Saya merasa dihargai dan termotivasi untuk belajar lebih banyak,” paparnya.
Saat ini, selain fokus memperbaiki diri, cita-cita utama Aldo adalah membahagiakan ibunya di hari tua.
“Saya sangat menyesal selama ini belum bisa membahagiakan ibu saya, dan malah membuatnya sedih dan kecewa,” ucapnya lirih.
Bagi Anita, memberikan kesempatan kedua pada Aldo untuk memulai hidupnya kembali adalah tentang memanusiakan manusia. Ia percaya, menenun adalah salah satu jalan yang bisa digunakan untuk tujuan tersebut.
“Menurut saya, tiap orang berhak atas kesempatan kedua. Dan saya berharap Aldo bisa menjadi pribadi yang lebih baik, dengan kehidupan yang juga lebih baik,” tandasnya.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.