Tandaseru — Pusat Tangguh Bencana Universitas Khairun (Unkhair) berupaya meningkatkan kapasitas siswa dalam mitigasi bencana melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dengan memanfaatkan teknologi Virtual Reality (VR) sebagai media pembelajaran.
Program ini berlangsung di Pondok Pesantren Hidayatullah, Kelurahan Gambesi, Kota Ternate Selatan, Rabu (24/6/2026), bertajuk “Peningkatan Kapasitas Siswa dalam Mitigasi Bencana Melalui Metode Pembelajaran Berbasis Virtual Reality”.
Sebanyak 45 santri tingkat SMP dan SMA mengikuti kegiatan tersebut. Para peserta mendapatkan pembelajaran interaktif berbasis VR untuk meningkatkan pemahaman, dan kesiapsiagaan menghadapi berbagai ancaman bencana.
Tim pelaksana PKM dipimpin Dr. Buhari Umasugi, S.P., M.Sc, bersama Erwin, Siti Humairah, Rahim Ahmad, dan Maulana Ibrahim.
Dr. Buhari Umasugi menyampaikan, mitigasi bencana merupakan langkah penting mengurangi risiko dan dampak yang ditimbulkan sebelum bencana terjadi. Menurutnya, edukasi kebencanaan perlu ditanamkan sejak usia sekolah, terutama karena Kota Ternate termasuk daerah yang memiliki tingkat kerawanan bencana cukup tinggi.
“Virtual Reality menjadi media pembelajaran yang efektif karena mampu menghadirkan simulasi kondisi bencana secara realistis,” ujarnya.
Kata Dr. Buhari, siswa dapat memahami prosedur penyelamatan diri, jalur evakuasi, dan langkah-langkah yang harus dilakukan saat terjadi bencana.
Melalui program tersebut, peserta memperoleh materi mengenai mitigasi berbagai ancaman bencana yang berpotensi terjadi di Kota Ternate, mulai dari erupsi Gunung Gamalama, gempa bumi, tsunami, banjir bandang, tanah longsor, kekeringan, hingga kebakaran hutan dan lahan.
Tak hanya menerima materi, para santri juga mengikuti simulasi kebencanaan berbasis VR yang dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih nyata, interaktif, dan mudah dipahami.
Pengurus Yayasan Hidayatullah, Ustaz Hamdun Ali Daud, S.Pd., mengapresiasi kegiatan tersebut karena memberikan wawasan baru bagi para santri, maupun tenaga pendidik di lingkungan pesantren.
“Selama ini kami hanya mengetahui cara menyelamatkan diri secara umum ketika terjadi bencana. Melalui kegiatan ini, kami mendapat pemahaman yang lebih baik tentang langkah-langkah yang tepat saat menghadapi gempa, tsunami, maupun longsor,” jelasnya.
Ia berharap program serupa dapat terus dilaksanakan sehingga literasi dan kesiapsiagaan bencana di lingkungan pesantren semakin meningkat.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.