Oleh: Sitti Nurliani Khanazahrah, M.Ag

Penulis, Dosen Filsafat, Pegiat Literasi dan Filsafat

_______

ADA satu jenis keberanian yang agak jarang kita bicarakan dalam riuh rendah dunia berpikir hari ini. Itu bukan keberanian menaklukkan argumen lawan atau meruntuhkan sistem besar tetapi lebih soal keberanian menjadikan diri sendiri sebagai objek pengamatan yang telanjang.

Montaigne memulai jalannya justru dari sana. Ia tidak berangkat dari menara gading teori atau klaim kebenaran yang beku. Ia malah memilih mulai dari sesuatu yang paling dekat sekaligus paling sulit dipahami yakni dirinya sendiri.

Bagi Montaigne memahami kemanusiaan tidak perlu dimulai dengan rumusan besar yang kaku. Tetapi cukup dengan duduk tenang lalu melihat ke dalam batin secara jujur dan bertanya apa sebenarnya yang sedang bergejolak di sana.

Tetapi yang ia temukan saat menengok ke dalam bukanlah harmoni yang menenangkan batin. Ia malah menemukan kontradiksi yang begitu gaduh.

Hari ini kita bisa merasa sangat yakin pada sebuah prinsip tetapi esok hari kita menjadi orang pertama yang meragukannya. Kita mengklaim diri sebagai makhluk rasional padahal sering kali keputusan besar dalam hidup kita hanyalah gerak refleks dari dorongan purba yang tidak kita mengerti.

Dan di sinilah letak kejujuran radikal seorang Montaigne. Ia tidak terburu-buru menghakimi dirinya sendiri. Ia bahkan tidak memaksakan sebuah konsistensi semu hanya agar terlihat utuh. Ia lebih memilih untuk sekadar mengamati.

Ini adalah sebuah laku fenomenologis yang murni. Mengamati tanpa kebencian pada sisa-sisa kelemahan diri. Mengamati tanpa delusi bahwa manusia harus selalu selesai dan sempurna. Ia sadar bahwa menjadi manusia berarti hidup dalam tegangan abadi antara idealisme yang kita agungkan dan kenyataan yang benar-benar kita jalani.

Barangkali di titik inilah kita mulai menyentuh kebijaksanaan. Bahwa memahami manusia bukan soal mengejar kesempurnaan tetapi menerima kenyataan bahwa kita adalah makhluk yang rapuh dan berubah-ubah. Dan karena kerentanan itulah maka setiap manusia layak untuk dipahami dan bukan dihakimi.

Bagi saya, refleksi Montaigne ini bukanlah sebuah ruang pengadilan yang dingin dengan hakim yang siap menjatuhkan vonis. Refleksinya adalah sebuah ruang perjumpaan. Sebuah momen di mana kita bertemu dengan diri yang apa adanya bersama segala retak dan kontradiksinya. Karena kebijaksanaan sejati tidak tumbuh dari kepastian yang kaku namun dari keberanian untuk terus melihat diri sendiri tanpa topeng. (*)