Oleh: Gufran A. Khairun (Ibrahim Gibra)

FIB Universitas Khairun

________

PAGI ini, ketika pertama kali saya membuka gawai untuk membaca pesan sepanjang malam, ada berita yang amat mengejutkan. Benar-benar mengejutkan.

Irfan Ahmad, dosen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun berpulang. Pada pukul 23.45 WIT malam tadi di RST Ternate–anak muda yang sangat produktif menulis itu–kembali ke asal.

Kaget, beberapa kolega belum percaya dan meminta validasi kabar. Benarlah kabar duka itu.

Sesungguhnya kita semua berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya. Kira-kira demikian terjemahan idiomatik dari salah satu ayat Qur’an tentang ajakan ucapan bagi kepulangan setiap makhluk: Innālillāhi wainnā ilaihi rōjiūn.

Ifan–begitu nama pertemanan dan kekolegaan anak muda ini.

Satu tanda paling jelas dan nyata dari Irfan Ahmad: produktif menulis. Banyak buku, banyak artikel populer, dan banyak artikel di jurnal ilmiah adalah jejak legasi (legacy)-nya sebagai dosen.

Kalau begitu, pasti ia kutu buku. Tidak hanya itu, Ifan pemburu sumber-sumber lawas buku dan naskah sejarah. Ia begitu telaten dan suntuk mencarinya, bahkan sampai ke ANRI.

Karena itu pula semua artikel yang ditulisnya tidak hanya eksplanasi sahih soal-soal sejarah, tetapi juga padat rujukan, kaya referensi.

Saya pribadi, jujur, “cemburu” sangat pada renjana (passion)-nya dalam menulis.

Belakangan, Ifan tidak hanya menulis artikel dan buku sejarah. Ia–dengan jangkauan sumber-sumber sejarah yang banyak dan luas–mulai menulis novel dan cerpen.

Suatu waktu, beberapa bulan lalu, Ifan berkabar kepada teman-temannya, termasuk kepada saya, bahwa ia telah mengirimkan naskah buku Belasting, sebuah novel berlatar sejarah, ke penerbit Gramedia. Tak tanggung-tanggung.

Lain waktu, pun belum lama, ke grup WA FIB Unkhair, ia mengunggah tiga buku anyar dan dua artikel berderajat Scopus Q1. Pada buku dan artikel itu ada nama Irfan Ahmad. Ia bersama koleganya di Yayasan The Tebings sedang memublikasi karya-karya mereka. Hasil riset yang dinyatakan dalam buku dan artikel.

Tak berlebihan, bila dikatakan bahwa terbitnya buku-buku yang ditulis bersama dan artikel-artikel yang juga ditulis bersama tersebut adalah bagian penting dari renjana Ifan.

Kalau boleh mendefisinikannya secara ringkas: Ifan adalah pemburu naskah sejarah, kutu buku, dan penulis produktif. Ini semua adalah garis kontinum kecendekiaan.

Semua orang bisa berbicara, tapi tidak semua orang bisa menulis (dalam arti memproduksi pikiran dan pengetahuan). Ifan telah mencatatkan sejarah hidupnya, sejarah kecendekiaannya dengan menjadi bagian dari sedikit orang yang bisa menulis sebagai tanda tertinggi kepandaian.

Dalam sabda Rasulullah Saw, buku-buku dan artikel-artikel yang ditulis Irfan Ahmad adalah al-ilmun yuntafahu bihi, satu dari tiga amal jariah yang akan terus menerangi alam kuburnya, alam barzahnya, sama seperti buku-buku dan semua ragam tulisannya membentang-luaskan horison pengetahuan pembaca.

Dengan duka, kami, kolegamu, ingin meminjam firman Allah dalam Al-Qalam ayat 1 dan 2: Nūn walqalami wamā yastrurūn, ‘Nun, demi pena dan apa-apa yang mereka tuliskan.

Selamat jalan, Ifan. Bukumu telah melampaui usiamu. Itulah jejak kecendekiaan.

Ternate, 8 April 2026.