Oleh: Anggaharianto Ambar, S.E
Mahasiswa Magister Ilmu Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta
________
Ketika Pertumbuhan Berhenti pada Batasnya Sendiri
Selama satu dekade terakhir, ekonomi Indonesia menunjukkan kinerja yang relatif stabil. Pertumbuhan bertahan di kisaran 5 persen, inflasi terkendali, dan sistem keuangan cukup tangguh menghadapi guncangan global. Di tengah ketidakpastian global, capaian ini tentu bukan hal kecil. Namun, stabilitas tersebut menyisakan satu pertanyaan penting: mengapa ekonomi tidak juga bergerak lebih cepat? Pertumbuhan memang terjadi, tetapi tanpa akselerasi. Ia bergerak, tetapi tidak berlari. Dalam jangka panjang, kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukan lagi pada stabilitas, melainkan pada batas struktural yang menahan pertumbuhan itu sendiri. Ekonomi tampak sehat di permukaan, tetapi belum cukup kuat untuk naik ke tingkat berikutnya.
Stabilitas yang Tidak Cukup
Selama ini, stabilitas makro sering dipandang sebagai kunci utama pertumbuhan. Logikanya sederhana: ketika inflasi terkendali dan kebijakan fiskal disiplin, ekonomi akan berkembang lebih cepat. Namun, pengalaman Indonesia menunjukkan bahwa stabilitas tidak otomatis menghasilkan percepatan. Pertumbuhan di kisaran 5 persen memang aman, tetapi belum cukup untuk mendorong lompatan menuju negara berpendapatan tinggi. Tanpa akselerasi yang konsisten, ekonomi berisiko terjebak dalam kondisi “cukup tumbuh, tetapi tidak berkembang”. Dalam situasi ini, pertumbuhan menjadi rutinitas, bukan transformasi. Persoalannya bukan pada kurangnya stabilitas, melainkan pada keterbatasan dalam mengubah stabilitas menjadi produktivitas dan nilai tambah. Stabilitas menjaga agar ekonomi tetap berjalan, tetapi tidak otomatis membuatnya bergerak lebih cepat.
Transformasi yang Tertahan
Salah satu indikator utama dari keterbatasan ini terlihat pada struktur ekonomi. Peran sektor manufaktur tidak berkembang secara signifikan, sementara sektor informal masih mendominasi penyerapan tenaga kerja. Akibatnya, sebagian besar tenaga kerja tetap berada pada aktivitas berproduktivitas rendah. Dalam kondisi ideal, pertumbuhan ekonomi seharusnya diikuti oleh perpindahan tenaga kerja ke sektor yang lebih produktif. Namun, proses ini berjalan lambat. Ekonomi tumbuh, tetapi tanpa perubahan struktur yang mendalam. Banyak tenaga kerja berpindah sektor, tetapi tidak benar-benar naik kelas dalam hal produktivitas. Inilah yang membuat pertumbuhan menjadi “dangkal”, tampak stabil di permukaan, tetapi tidak cukup kuat untuk mendorong transformasi jangka panjang. Tanpa perubahan struktur, pertumbuhan hanya memperbesar skala ekonomi, bukan meningkatkan kualitasnya.
Ketergantungan yang Belum Terputus
Di sisi lain, struktur ekspor Indonesia masih didominasi oleh komoditas. Dalam jangka pendek, komoditas memang dapat menjadi penopang pertumbuhan. Dalam jangka panjang, ketergantungan ini justru menciptakan kerentanan yang berulang. Harga komoditas sangat dipengaruhi oleh dinamika global yang tidak dapat dikendalikan. Ketika harga naik, ekonomi ikut terdorong; ketika harga turun, pertumbuhan ikut melambat. Ini menunjukkan bahwa sebagian pertumbuhan masih bergantung pada faktor eksternal, bukan pada kekuatan internal yang berkelanjutan. Tanpa diversifikasi menuju sektor bernilai tambah tinggi, ekonomi akan terus berada dalam siklus yang sama: tumbuh ketika kondisi global mendukung, melemah ketika tekanan datang.
Hambatan yang Tidak Terlihat
Persoalan lain yang sering luput adalah faktor kelembagaan. Regulasi yang tumpang tindih, birokrasi yang tidak efisien, serta ketidakpastian kebijakan menciptakan hambatan bagi investasi produktif. Akibatnya, investasi yang masuk tidak sepenuhnya menghasilkan peningkatan produktivitas. Ekonomi tetap tumbuh, tetapi dengan efisiensi yang terbatas. Dalam jangka panjang, kondisi ini membuat pertumbuhan kehilangan daya dorongnya. Dalam situasi seperti ini, stabilitas justru dapat berubah menjadi “zona nyaman”. Ekonomi berjalan tanpa guncangan, tetapi juga tanpa dorongan kuat untuk berubah. Reformasi yang seharusnya mendorong transformasi sering kali tertunda karena tidak dianggap mendesak.
Dari Stabilitas ke Transformasi
Jika persoalannya bersifat struktural, maka solusinya juga harus struktural. Fokus kebijakan tidak cukup hanya menjaga stabilitas, tetapi juga mendorong transformasi ekonomi yang lebih dalam. Peningkatan kualitas investasi menjadi kunci. Bukan sekadar menambah jumlah investasi, tetapi memastikan bahwa investasi benar-benar meningkatkan produktivitas dan menciptakan nilai tambah. Di saat yang sama, penguatan sektor industri perlu menjadi prioritas. Tanpa basis manufaktur yang kuat, sulit bagi ekonomi untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi dalam rantai nilai global. Perbaikan institusi juga tidak kalah penting. Kepastian regulasi dan efisiensi birokrasi bukan sekadar isu tata kelola, tetapi faktor penentu arah pertumbuhan. Selain itu, investasi pada sumber daya manusia dan inovasi tidak bisa ditunda. Dalam jangka panjang, inilah yang menentukan batas atas pertumbuhan ekonomi suatu negara.
Melampaui Batas Pertumbuhan
Pada akhirnya, persoalan utama ekonomi Indonesia bukan lagi soal menjaga stabilitas, melainkan bagaimana melampaui batas pertumbuhan yang ada. Stabilitas memang penting, tetapi ia hanya fondasi. Tanpa transformasi struktural, stabilitas justru berisiko menjadi jebakan. Cukup untuk bertahan, tetapi tidak cukup untuk melompat. Jika ingin bergerak lebih jauh, ekonomi tidak bisa hanya dijaga agar tetap stabil. Ia harus didorong untuk berubah, beradaptasi, dan berani keluar dari pola lama yang selama ini menahannya. (*)



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.