Oleh: Anwar Husen
Pemerhati Sosial/Tinggal di Tidore
_______
“Mengelilingi sambil mengamati detail kompleks yang jadi kawasan kantor pemerintahan di bebukitan itu, seolah ikut masuk menjelajahi dan hanyut dengan alam pikiran terdalam seorang Hein yang futuristik itu, dan makin meneguhkan keyakinan saya tentang kehebatan sosok ini”
KARIB Wakil Bupati Halmahera Utara Kasman Hi. Ahmad mendeskripsikan perjalanan kepemimpinannya yang menyentuh substansi. Dengan memadukan dengan apik teori kepemimpinan menurut para ahli karena latar akademisinya yang kental, dengan pengalaman praktisnya sebagai wakil kepala daerah, di daerahnya. Juga tentunya daerah sang maestro ini, mantan Bupati Halmahera Utara Hein Namotemo. Dua periode kepemimpinannya.
Ini potongan kalimat Kasman di akun Facebooknya, Kepemimpinan daerah kerap menjadi fondasi penting bagi arah pembangunan suatu wilayah. Di Halmahera Utara, nama Ir. Hein Namotemo, M.SP menjadi salah satu figur sentral yang jejak kepemimpinannya meninggalkan pengaruh kuat, baik dalam tata pemerintahan, penguatan identitas lokal, maupun orientasi pembangunan berbasis masyarakat. Melalui pendekatan kepemimpinan yang memadukan kearifan lokal dan prinsip manajemen modern, Hein membangun gaya kepemimpinan yang khas, yang dapat dibaca dalam tiga dimensi : humanis, partisipatoris, dan berorientasi transformasi.
Sepenggal narasi obituari atas kepergian mantan kepala daerah hebat di Maluku Utara menghadap Tuhan, yang diungkap Kasman ini, serasa menyasar detail kepemimpinan tokoh ini. Maluku Utara kehilangan salah satu dari sedikit tokoh pemikir transformatif pembangunan yang hebat dan bervisi besar.
Saya tak dekat dengan mendiang Hein Namotemo. Hanya mendengar tuturan dari banyak kisah sahabat, rekan kerja, hingga warga yang merasakan kepemimpinannya. Ketika melihatnya berpidato di lapangan terbuka, di hadapan ribuan warga, dan dari jarak yang sangat dekat di suatu kesempatan di Tobelo, itu benar-benar mengukuhkan keyakinan saya dari sejumlah informasi tadi.
Di Maluku Utara, di rentetan sejak daerah ini merengkuh status otonomi, tak banyak tokoh hebat dan pernah menjadi kepala daerah yang kapasitasnya setara beliau. Bahkan bagi saya, sangat sedikit yang terlacak hingga saat ini. Kekuatan visi yang menjangkau ruang dan waktu dari para sosok ini, itu pembedanya.
Visi bagi Nurcholish Madjid, menunjuk arah dan menggerakkan orang menggapainya. Otentikasi visi kepemimpinan para tokoh hebat Maluku Utara di jamannya itu, benar-benar dirasakan menjelma ke ruang-ruang publik menjadi pembangun optimisme dan tumpuan harapan warganya. Sebuah mosaik kepemimpinan otentik yang jauh dari bau mesin algoritma di era post-truth dan kebenaran semu ini. Sebuah era penuh kepalsuan yang diyakini Anis Matta segera berakhir.
Sejak era kontestasi langsung kepala daerah hingga saat ini, tak banyak daerah yang beruntung mendapatkan pemimpin hebat. Bagi saya, Halmahera Utara salah satunya. Mereka tak sekedar datang dan kemudian pergi mengisi ruang waktu, tetapi juga menyemai harapan dan optimisme, membangun peradaban dan menyisakan jejak legacy kepemimpinan yang kuat. Mereka sejatinya “penunjuk arah”.
Dalam banyak tulisan pendek, saya mengenang banyak sosok hebat dari kepemimpinannya yang menjangkau jaman karena kekuatan visinya. Bahkan hingga beberapa dekade kemudian, orang baru menyadari kekuatan pikiran mereka. Ada deretan nama-nama yang terekam seperti I.E. Toekan, Abdul Bahar Andili, Syamsir Andili, Burhan Abdurahman, Muhammad Kasuba, Achmad Mahifa, juga tentunya sang tokoh Hein Namotemo. Lebih jauh, ada S.H. Sarundajang di Sulawesi Utara, Fadel Muhammad di Gorontalo, Nurdin Abdullah di Bantaeng, dan lain-lain. Kepemimpinan daerah bagi mereka, tak sekedar bakat alamiah. Panduannya harus berbasis keilmuan, hal yang diungkap Kasman pada sosok ini.
Dengan bangganya, Hein mengabadikan namanya sebagai nama sebuah lembaga pendidikan tinggi. Padanan yang terasa setara untuk kapasitas intelektual dan kepemimpinan seorang Hein.
Di penghujung tulisannya, Kasman menulis, di akhir kepemimpinan Hein, berdiri Universitas Hein Namotemo, sebagai bukti, bahwa Hein Namotemo adalah pemimpin lokal yang bervisi jauh ke depan.
Di Tobelo puluhan tahun lalu, saya pernah ada di Kantor Bupati Halmahera Utara ketika belum lama dibangun, dalam sebuah agenda pemerintahan. Ada kekaguman yang luar biasa, karena tak biasa filosofi sebuah kantor pemerintahan di sudut paling terpencil Indonesia itu, dari penampakannya. Sebuah mahakarya yang langka. Karib Freddy Tjandua, Kepala BAPPEDA Kabupaten Halmahera Utara kala itu, mengurai detail pikiran seorang Hein, atasannya. Mengelilingi sambil mengamati detail kompleks yang jadi kawasan kantor pemerintahan di bebukitan itu, seolah ikut masuk menjelajahi dan hanyut dengan alam pikiran terdalam seorang Hein yang futuristik itu, dan makin meneguhkan keyakinan saya tentang kehebatan sosok ini. Selamat jalan sang maestro. Wallahua’lam. (*)



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.