Oleh: Anwar Husen
Pemerhati Sosial/Tinggal di Tidore, Maluku Utara
________
Ubah mindset bahwa logika dasar berusaha itu adalah kompetisi . Dan, bahwa kreatifitas dan kualitas produk jasa pelayanan apa saja, itu menentukan “isi tas” Anda.
DI Sumatera, sedang ada banjir hebat yang merenggut banyak korban. Otoritas BMKG mengklaim efek dari pergerakan badai Siklon Tropis Senyar. Di Maluku Utara tak ada badai Siklon Tropis Senyar. Hanya efek gelombang laut yang ujung-ujungnya memicu drama penyanderaan kapal cepat.
Ada live video di akun Facebook-nya, dan ini narasinya: Kabar gembira, para motoris speedboat di pelabuhan Mangga Dua Ternate kini siap bersaing untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.
Langkah itu ditandai dengan adanya konversi mesin yang dipakai awalnya menggunakan mesin 2 tak kini mereka akan beralih ke mesin 4 tak.
Upaya yang didorong Koperasi Semut Mutiara mendapat dukungan penuh juga oleh pihak Yamaha mereka siap menyediakan permintaan sesuai kebutuhan para motoris speedboat.
Untuk memperlancar kerjasama ini pihak Yamaha Pusat turun langsung mengecek kondisi mesin yang dipakai para motoris dan aktivitas di pelabuhan di Semut Mangga Dua Ternate.
Pengecekan ini dipimpin langsung oleh Yamaha Motor Corporation Japan Shingo Yomagami didampingi oleh Service Manager Yamaha Pusat Aji Handoko bersama Ketua Koperasi semut Mutiara Ternate.
Laporan wartawan TribunTernate Sabtu (29/11/2025).
Saya mengomentari dan membagikannya di beberapa WAG, bahwa ini baru cara berpikir yang benar. Berbenah untuk berubah dan bersaing, bukan selalu berharap ada proteksi pemerintah daerah. Itu kesalahan berpikir. Suka atau tidak, berusaha itu logika dasarnya adalah kompetisi. Sudah hampir setengah abad tetapi tidak ada modernisasi moda transportasi. Bertahan dengan armada rongsokan yang bikin masalah setiap waktu.
Tak perlu bertanya mengapa hal begini jadi menarik. Publik Maluku Utara khususnya di beberapa wilayah, sudah sejak lama merasakan dampak buruk pelayanan moda transportasi ini.
Di pelabuhan penyeberangan Mangga Dua Ternate tadi, sudah sering sekali terjadi keributan karena dipicu berebutan pengguna jasa terjadi. Juga di beberapa pelabuhan lainnya. Paling aktual, baru saja ada “drama penyanderaan” kapal cepat oleh kelompok motoris di sebuah pelabuhan. Pemicunya sama, saling klaim dan perebutan “lahan”. Kadang soal tarif.
Saya sudah sering mengomentari hal-hal begini sejak lama. Ada sesuatu yang dipandang keliru: cara pandang berusaha. Umumnya yang terlihat, pemerintah daerah dipaksa untuk memproteksi usaha mereka meski kelihatan tidak rasional. Di saat yang sama, mereka secara periodik juga menjadi objek untuk meraup suara dalam kontestasi pemilihan kepala daerah. Pengguna jasa dalam banyak kasus, seperti terpaksa menerima apapun keputusan mereka karena relatif tak tersedia alternatif yang lebih baik. Masalah akan terjadi jika ada ekspansi usaha dari pihak lain dengan armada yang lebih nyaman dan terjamin keselamatannya. Drama penyanderaan tadi adalah indikasinya.
Pertanyaannya, apakah kita harus terus bertahan dengan situasi begini sepanjang waktu? Ini soalnya. Anda boleh suka atau tidak, logika dasar berusaha itu adalah kompetisi, bukan arisan atau kesepakatan. Dan memilih moda transportasi dengan tingkat safety yang tinggi, itu adalah hak pengguna jasa. Haknya untuk menikmati kenyamanan dari tarif yang dibayarnya, hingga hak untuk melindungi nyawanya karena nyawa mereka tak dijual di toko. Hanya sesederhana ini logikanya, tapi sudah puluhan tahun tak cukup membuat kita sadar. Jika ada yang berpikir bahwa meski dengan standar keselamatan pelayaran yang minim, tapi toh ada asuransi kecelakaan yang diterima pengguna jasa, maka ini adalah logika paling goblok sepanjang sejarah peradaban manusia.
Kita dengan mudah bisa mengamati dan menilai, seperti apa dan berapa lama waktu dibutuhkan bagi sebuah proses transformasi moda transportasi laut di daerah ini. Transformasi dari moda sebelumnya ke speedboat sudah berlangsung berpuluh tahun. Di saat sama, daerah lain justru sangat cepat model transformasinya. Bahkan melompat, tak pernah merasakan menggunakan moda speedboat.
Ini sedikit kutipan untuk menyegarkan ingatan. Bahwa prinsip berusaha dalam Islam berfokus pada kejujuran, keadilan, amanah, dan menghindari hal-hal yang haram seperti riba [bunga], gharar [ketidakjelasan], dan maisir [judi]. Bisnis juga harus didasari niat yang benar untuk mencari keridaan Allah dan membawa manfaat bagi masyarakat, termasuk tanggung jawab sosial dan lingkungan. Selain itu, penting untuk menjaga etika bisnis, transparansi, dan kepatuhan terhadap hukum syariat dalam semua aspek transaksi.
Langkah untuk berubah yang ditunjukan pihak pengelola moda transportasi speedboat di pelabuhan Mangga Dua Ternate tadi sebagai starting baru mengubah mindset berusaha, usaha apa saja. Pihak yang punya otoritas menentukan tarif dan aturan keselamatan pelayaran, tegakkan profesionalisme dalam bekerja. Negosiasi dan mufakat dalam hal-hal begini, adalah penghinaan terhadap kadar profesionalisme anda. Lebih dari itu, keselamatan dan nyawa tak bisa di negosiasi.
Ada yang memilih membuat monumen sebagai penanda dan pengingat. Patung, misalnya. Tak perlu ada monumen di laut yang menandai terjadinya kecelakaan pelayaran dan memakan korban. Itu mahal harganya. Cukup di setiap area pelabuhan penyeberangan, ada informasi yang terbaca jelas: jenis kejadian, waktu dan jumlah korban yang terjadi selama ini. Anggap saja itu sebagai jenis pengingat paling purba, atas prilaku kita yang kadang purba, mudah lupa tetapi tak selalu senang bila diingatkan.
Buat pelaku usaha, ubah mindset bahwa logika dasar berusaha itu adalah kompetisi. Dan, bahwa kreatifitas dan kualitas produk jasa pelayanan apa saja, itu menentukan “isi tas” anda. Anda yakin saja, pengguna jasa pasti mau membayar berapa saja asal setara kualitas pelayanan yang di berikan. Mulailah berbenah untuk berubah. Wallahua’lam. (*)



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.