Oleh: Fahmi Djaguna

Dekan FKIP UNIPAS Morotai

________

SEBELUM saya melangkahkan pena dan menata diksi dalam narasi ini, izinkan saya mengucapkan Selamat Hari Guru Nasional kepada seluruh pendidik di republik ini. Sebuah hari yang tidak sekadar seremonial, tetapi ruang perenungan mendalam tentang betapa besar jasa para guru, dan betapa kecil sering kali penghargaan yang mereka terima. Hari ini bukan hanya perayaan, melainkan cermin bagi bangsa: apakah kita benar-benar memuliakan guru, atau sekadar mengulang simbol tanpa makna?

Kemarin, 25 November 2025, saya diundang sebagai narasumber pada talkshow yang diselenggarakan oleh tim KREASI dari Stimulant Institute dan Save The Children. Hadir bersama saya, Kadis Pendidikan, Ketua Komisi III DPRD, Saudara Sukri BS Rauf, Ketua PGRI Pulau Morotai, Kepala Sekolah PAUD Muhajirin, dan moderator Ibu Dr. Irawati Sabban, M.Pd., dosen FKIP UNIPAS Morotai. Peserta kegiatan adalah kepala sekolah dan guru SD se-Kabupaten Pulau Morotai yang memenuhi Aula Kantor Bupati dengan wajah-wajah penuh pengabdian.

Dalam forum itu, kami diminta menguraikan pikiran tentang tema besar: Guru, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Tentunya dalam penyampaian itu, saya tidak hanya menyinggung romantisme kepahlawanan, tetapi mempertanyakan: masih relevankah frasa “pahlawan tanpa tanda jasa” bila di saat yang sama kesejahteraan guru terus terabaikan?

Istilah itu indah, puitik, penuh penghormatan. Namun betapa ironis, ketika gelar pahlawan justru menjadi alibi untuk menormalkan pengorbanan tanpa kompensasi yang layak. Pahlawan, memang, adalah mereka yang mengabdikan diri dengan cinta. Tapi cinta tak berarti menghapus kebutuhan dasar manusia. Jika profesi guru terus menuntut kualitas, profesionalisme, dan ketangguhan psikologis, tetapi negara abai pada kesejahteraan, maka yang tercipta bukan kemuliaan, melainkan luka yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Di Morotai sendiri, kita masih menjumpai fakta-fakta yang mencederai nurani. Ruang balai guru yang dialihfungsikan, seolah guru adalah kelompok yang bisa mengalah tanpa perlawanan. Dan fakta lebih mengejutkan muncul ketika kita membaca Renstra Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pulau Morotai: tidak termuat secara jelas program pengembangan kapasitas guru. Lebih fatal lagi, tidak ada road map yang komprehensif mengenai arah pembangunan pendidikan daerah. Bagaimana mungkin kualitas pendidikan ingin ditingkatkan, tetapi kapasitas guru sebagai pilar utama sekolah dan tidak diberi ruang untuk tumbuh?

Ini bukan sekadar kekurangan administratif. Ini peringatan keras bagi seluruh pemangku kebijakan bahwa pendidikan tidak bisa dikelola dengan logika trial-and-error. Guru tidak bisa terus menjadi penopang tunggal sistem, sementara sistem itu sendiri rapuh dari hulu hingga hilir.

Dalam talkshow itu, kami menyampaikan bahwa kualitas guru tak mungkin hadir dari ruang hampa. Ia membutuhkan ekosistem atau regulasi yang visioner, kesejahteraan yang memadai, pelatihan berkelanjutan, supervisi akademik yang mendidik, serta kepemimpinan dinas yang progresif. Ketika Renstra pendidikan minim arah, maka guru akan berjalan tanpa kompas. Ketika kesejahteraan dikesampingkan, maka seluruh tuntutan kualitas menjadi beban psikologis yang tidak manusiawi.

Morotai membutuhkan perubahan paradigma. Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum, melainkan arsitek masa depan wilayah ini. Di tangan mereka, anak-anak Morotai menemukan bahasa pertama tentang dunia: harapan, disiplin, logika, dan nilai moral. Mengabaikan guru berarti mengabaikan masa depan Pulau Morotai sendiri.

Karena itu, kritik ini bukan serangan. Ini doa yang lantang. Ini seruan agar Dinas Pendidikan melakukan evaluasi total. Agar pemerintah daerah menempatkan guru bukan sebagai pelengkap anggaran, tetapi investasi jangka panjang pembangunan manusia. Agar ruang-ruang pelatihan, beasiswa peningkatan kualifikasi, dan supervisi profesional tidak sekadar menjadi paragraf manis dalam dokumen renstra, melainkan nyata, terukur, dan berdampak.

Dan untuk para guru yang hadir dalam talkshow itu—dan para guru di seluruh pelosok Morotai izinkan saya menundukkan kepala dengan penuh hormat. Kalian bekerja dalam sunyi, sering kali melampaui batas logika tenaga manusia. Kalian bukan hanya pahlawan, tetapi penyangga peradaban.

Namun, izinkan kita semua sepakat: guru tidak boleh hanya dipuja. Mereka harus disejahterakan. Karena pendidikan yang kuat tidak lahir dari pujian, tetapi dari keberpihakan yang konkret.

Jika narasi ini dibaca, biarlah ia menjadi pemantik kesadaran. Bahwa negara dan daerah harus hadir, bukan hanya memberi gelar, tetapi memastikan pahlawan itu hidup dengan layak. Sebab mutu pendidikan tidak mungkin melonjak jika guru terus berdiri sendirian di tengah badai. Semoga! (*)