Oleh: A. Malik Ibrahim

_______

Judul Buku: Rempah Terakhir: Sebuah Novel Sosiologi

Penulis: Herman Oesman

Penerbit: Tanah Air Beta, Yogyakarta, 2025, x +125 halaman

SEBUAH novel bukan sebatas imajinasi di atas kertas. Ia tak mau dibatasi hanya sekadar narasi sebuah pulau; laut, tanah dan pohon. Tapi sebuah makna kesaksian yang dipetik dari pohon kehidupan.

Sejarah sastra kita tak melulu degup romantisisme. Ibarat karnaval – dia berwarna-warni, hidup, muram dan menggetarkan. Dan seperti spons, dia menghisap dan ringkih.

Dia adalah ruang hidup dan doa dari orang-orang yang terlempar – tidak kepada langit atau hidup, melainkan kepada dunia, kepada lingkungan untuk berhenti sejenak dan mencium aroma rempah yang nyaris hilang.

Herman Oesman menamai novelnya Rempah Terakhir: Sebuah Novel Sosiologi. Tapi setidaknya cerita dari novel ini adalah sebuah fiksi yang terinspirasi oleh fakta.

Nafas novel dengan genre sosiologi narasinya menjadi sebuah tanda kenal yang khas. Biasanya mengeksplorasi dan menganalisis struktur masyarakat, interaksi sosial dan peristiwa budaya. Ada jalan cerita, setting, suasana, suspense yang membuat cerita novel ini menarik, dan terbuka serta plotnya bebas disimpulkan pembaca.

Siapa pun yang membaca dari sudut ini – akan merasa jadi bagian dari karakter atau produk dari lingkungan sosial mereka. Ia berfungsi sebagai cermin dari keadaan yang dikritik dan menantang kita mempertimbangkan kembali penggal kisah ketidakadilan.

Dengan cara ini kita sanggup meramu kedalaman batin sosial, dari sekadar urusan pengetahuan yang kering.

Di dalam proses kreatif: Herman Oesman adalah pengarang. Di luar proses kreatif, ia adalah pengajar, dosen, peneliti dan anggota masyarakat. Dapatkah Rempah Terakhir menjadi novel sosiologi yang baik? Saya tidak tahu!

***

Kita bayangkan misalnya novel sosiologi serupa – Bumi Manusia Pramoedya Ananta Toer, Ronggeng Dukuh Paruk dan Bekisar Merah Ahmad Tohari, Laut Bercerita Leila S. Chodori, Cantik itu Luka Eka Kurniawan dan Anak Bajang Menggiring Angin Sindhunata, sekadar menyebut beberapa yang pernah saya baca.

Dari kalimat yang lugas, deskripsi dan narasi yang sarkastis, menyiratkan kepekaan sukma seorang pengarang dengan kalimat negasi ini:

“Pulau Tefa adalah sepotong surga yang terjatuh ke laut…Pulau itu tidak besar. Hanya seluas doa yang dipanjatkan di kala panen. Tapi aromanya melampaui batas-batas kerajaan dan samudra”, (hal.v).

“Di sini tumbuh rempah yang tidak hanya memikat selera dunia, tetapi juga membentuk cara hidup, cara percaya, bahkan cara mencintai. Cengkih yang harum dan keras kepala, pala yang manis sekaligus getir, kayu manis yang menghangatkan luka, semuanya tumbuh di tanah ini seperti doa yang dijawab oleh alam”, (hal.v-vi).“Sampai kemudian datanglah tambang…”

“Tak seperti para penjajah yang dulu datang dengan bahtera dan pakaian lusuh, para penambang datang dengan surat resmi dan investor. Mereka membujuk, memaksa, lalu menguasai tanah demi tanah dengan alat berat, bukan senjata. Mereka menggali bukan hanya tanah, tetapi juga menggugurkan ingatan. Dalam satu dekade, hampir seluruh sisi timur pulau berubah menjadi galian besar yang menganga seperti luka yang tak bisa dijahit”, (hal vii) .

Bagi saya kisah novel ini merepresentasikan negasi – sebuah perlawanan mereka yang lemah dan tak berdaya menghadapi absurditas nasib dan kekuasaan. Hanya nestapa, sekaligus melarat. Suara orang-orang tersungkur dari komunitas hidupnya.

Amira dan Rafi adalah tokoh-tokoh yang ringkih, dapat kita anggap mewakili aspirasi penulis. “Amira tumbuh dalam bayang-bayang cerita ini. Ia menyalakan satu keyakinan: bahwa pulau ini masih menyimpan jiwa, meski tubuhnya nyaris habis”.

“Sementara Rafi, sahabat masa kecilnya, memilih jalan yang lain. Ia menjadi operator tambang, menggali tanah yang dulu mereka lari-lari di atasnya. Ia tidak jahat. Ia hanya lelah melawan kemiskinan yang turun temurun”.

***

Ungkapan aforisme penulis dalam prolognya, memberi kemudahan pada pembaca –suatu afirmasi sudut pandang imajinasi simbolik tentang isu-isu sosial sebagai karya sastra yang indah dan enak dinikmati.

Konflik, perang, penindasan dan kesengsaraan adalah sekunder : ia merasuk dalam jiwa manusia sebagai manusia dan bukan sebagai makhluk sosial. Bagi Garcia Marquez, tak ada sastra yang tak bernilai politis, karena tak ada manusia yang tak berpolitik.

Sastra itu tidak rumit membaca dan berimajinasi di atas kata-kata, di bawah kata-kata dan di balik kata-kata. Sastra itu keagungannya diukur dengan melihat aspek pemikirannya yang dikandung dan nilai sastranya akan diukur dari seluruh aspek kesusastraannya.

J.F. Kennedy membaca Henry Wadsworth Longfellow, Edgar Allan Poe dan Ernest Hemingway, sekadar mengasah kedalaman batinnya.

Dan dari penyair, orang-orang politik bisa belajar tentang licentia poetica (kebebasan puitis), bagaimana seorang penyair bertutur dengan memakai kemungkinan bahasa, mengolah kalimat setengah patah menjadi kejutan. Menyulap kata hampa menjadi mutiara atau sebuah ungkapan jorok menjadi kristal.

“Jika politik bengkok puisi yang meluruskan…”

Di akhir cerita Herman menulis sepenggal ekspresi. “Tanah yang mengingat, bukan sekadar tanah tempat berpijak, tapi tempat nama diwariskan. Amira dan Rafi tidak tahu bagaimana nasib anak-anak mereka kelak? Anak-anak itu tidak akan tumbuh tanpa akar”, (hal.101-102).

Karena di situlah terlihat wajah ibu dalam bumi, cinta terakhir yang tak bisa dibagi-atau digantikan dengan apapun. (*)