Oleh: M. Jain Amrin

_________

TAN Malaka merupakan figur revolusioner yang tidak hanya berjuang melalui senjata, melainkan juga lewat gagasan. Melalui karyanya Madilog (Materialisme, Dialektika dan Logika), ia menekankan pentingnya berpikir rasional, kritis, dan logis sebagai fondasi kemerdekaan sejati.

Bagi Tan Malaka, mengusir penjajah hanyalah langkah awal, yang lebih penting adalah membebaskan bangsa dari belenggu mistisisme, kebodohan, dan ketergantungan. Tanpa pendidikan dan kesadaran intelektual, kemerdekaan hanya akan menjadi semu dan mudah direbut kembali oleh bentuk penjajahan baru.

Namun, keberanian intelektual itu justru menjadikannya tokoh yang sering berbenturan dengan berbagai kekuatan politik sezamannya. Tan Malaka menolak kompromi demi kekuasaan dan kerap berada di luar arus utama. Akibatnya, meskipun diakui sebagai Pahlawan Nasional sejak 1963, namanya tetap dimarjinalkan dalam historiografi resmi Indonesia.

Buku-buku sejarah lebih banyak mengagungkan figur seperti Soekarno, Hatta, dan Sjahrir, sementara Tan Malaka hanya menjadi catatan pinggiran. Inilah bukti bahwa historiografi kita bukan ruang netral, melainkan produk politik ingatan yang menyeleksi siapa yang layak dikenang dan siapa yang harus dilupakan.

Padahal, pemikiran Tan Malaka memiliki relevansi besar bagi konteks kontemporer. Gagasannya tentang pendidikan kritis, kemandirian ekonomi, dan keberanian berpikir logis menjadi kunci menghadapi era globalisasi dan disrupsi hari ini. Madilog dapat dibaca sebagai teks yang mendorong literasi kritis bangsa agar tidak kembali jatuh dalam dominasi kekuatan luar atau oligarki dalam negeri. Dengan demikian, menghadirkan kembali pemikiran Tan Malaka bukan sekadar mengenang sejarah, tetapi juga mengoreksi cara bangsa ini menulis masa lalunya.

Tan Malaka adalah simbol bahwa sejarah bukan hanya tentang kemenangan politik, tetapi juga tentang pertarungan ide. Ia menunjukkan bagaimana seorang pemikir bisa dibungkam bukan oleh peluru, melainkan oleh kelupaan yang disengaja. Mengingat Tan Malaka berarti merawat warisan kritis yang dibutuhkan bangsa ini: keberanian berpikir merdeka, meskipun harus berhadapan dengan arus besar kekuasaan.