Oleh: Yoesran Sangaji
_______
SUATU malam, Kopiam ditempati oleh kumpulan orang dengan latar belakang sosial yang berbeda meski disebut perihal kopi ala mahasiswa. Di sana orang duduk dan bercerita, tempat di mana menjadi simbol, ruang, sekaligus gaya hidup mahasiswa.
Ia menyediakan dua ruangan, kiri dan kanan. Pada kiri, dikenal dengan aturan yang bebas merokok, sedang kanannya tidak. Saat itu, terdapat 24 orang menempati bagian kiri, 12 orang di halaman depan, 2 orangnya di kanan dan saya sendiri memilih posisi kiri. Dan kiri-kanan ini bukanlah ajaran ideologi, melainkan tata ruang yang telah ditetapkan sedemikian rupa, sehingga siapa pun berkunjung akan memutuskan di mana tempat yang memungkinkan ditempatinya.
Di balik kepulan asap rokok dan derai tawa di Kopiam murah pinggir kampus, terselip perjuangan, pelarian, perlawanan dalam bentuk yang paling cair; nongkrong sambil berinteraksi gagasan, seputar politik bahasa, kuasa kota, peran perempuan, hingga kebijakan pendidikan dan aktivitas mahasiswa yang sedang main game.
Meski demikian, kiri ini justru lebih ramai dibandingkan kanan yang hening dan formal. Di sinilah orang kemudian mulai bincang; pada ruang dan kopi, suara mahasiswa antar generasi.
Kopiam, Ruang Sosial
Kopiam bukan sekadar tempat orang minum kopi. Ia sebagai “ruang sosial” –meminjam istilah Lefebvre– yang diproduksi melalui interaksi antar subjek, baik dengan diskusi ataupun obrolan atas situasi Halmahera misalnya. Di sana, ruang –hemat saya dan di manapun– ia dibentuk oleh atmosfer dan relasi kuasa yang kasat maupun terselubung.
Ruang itu, sebelah saya, kawan Dwi –seorang alumni Sosiologi dari Sahu Timur– dan Yunita, alumni Aikom asal Buton, sedang mengobrol. Bukan saja tanya kabar. Ada nostalgia dalam berbagi pandangan, yang sudah lama berpisah sejak 2017 hingga akhirnya bertemu kembali di tahun 2025. Adapun Asni dan Anita, yang merefleksikan bagaimana perjalanan pendakian di Gamkonora pada tanggal 29 Desember 2024.
Percakapan mereka membentang dari sejarah, kisah pribadi, refleksi, dunia kerja yang makin rumit, tekanan sistem hingga dinamika sosial yang berlangsung. Bahasa di mana saya menyimak itu bukan basa-basi. Ia kadang menjadi padat pengetahuan, mengandung memori, ketakutan dan harapan.
Kebalikannya pada Muit (asal dari Pulau Morotai), sedang menempati kursi di depan saya berada di percakapan yang lain. Ia tidak lupa, sebagaimana tugas mahasiswa, memanfaatkan waktu saya untuk membicarakan kondisi Kepulauan Morotai sekaligus menanyakan bagaimana pandangan sosiologi sambil tetap berpijak pada realitas pulau tersebut.
Sebuah pulau yang jauh itu namun makin dekat dalam obralan kami, dan meja ini menghadirkan panggung dua dunia; satu refleksi dan nostalgia, satunya lagi mengenai ruang dan harapan. Dari meja pula tampak jelas dinamika lain yang terjadi di luar kami.
Kopiam, sebagai ruang produksi mahasiswa, menjadi “ruang ketiga” antara kampus dan rumah kos. Di situlah percakapan ideologis dan kultur lintas organisasi mahasiswa; tentang hidup, cinta, politik kampus, dosen, hingga kepala daerah. Semua muncul dalam nuansa santai saja.
Juga nampak ruang performatif. Mahasiswa datang bukan saja untuk ngopi, alih-alih menunjukkan ‘siapa mereka’. Lewat pilihan tempat duduk, merek laptop dan hp, jenis rokok dan kopi, buku, gaya berpakaian, tak lain sebuah kode atau tanda dibaca dalam konteks interaksi. Dalam ruang ini –tanpa sadar– kita mengetahui struktur telah bekerja dan dengan peran-perannya, yang ‘bisa’ juga berubah dari waktu ke waktu.
Di lain sisi, Kopiam dijadikan oleh mahasiswa sebagai ruang taktis dalam menghadapi medan sosial, sistem kampus dan kehidupan kota. Ngumpul sambil minum kopi dipahami taktis yang bukan strategi untuk bertahan. Dengan kata lain, ruang belum sepenuhnya berpihak bagi mahasiswa dan bukan atas dasar “yang malas”.
Di situ, mahasiswa bukan agen pasif. Mereka menciptakan makna sendiri dalam ruang, menjinakkan tekanan dengan cara mereka, saling menukar pandangan dan bermimpi besar meski sering dengan obrolan receh. Juga bukan mengenai pengabdian, melainkan memproduksi ruang dengan polanya masing-masing.
Game, Tugas, Kopi
Kopiam dikenal oleh orang ramai sebagai tempat yang murah harganya, sederhana, tidak seperti tempat kafe di wilayah Ternate Tengah di luar daripada “Commune”. Di sini, menu hadir di atas meja saat diskusi, yang kopi dan rokok tak sekedar teman begadang, ia menjadi saksi suara dari proses pembentukan identitas mahasiswa dengan latar yang berbeda di mana orang menempatinya.
Narasinya biasa saja ketika kopi dinikmati dalam harian. Dari siang ke malam, dengan harga 6.000 telah jadi tiket masuk ke ruang sosial yang bernama “Kopiam”. Dan tempat itu, status, tekanan, kecemasan akan masa depan dibungkus dengan gelak tawa dan cerita-cerita hiperbolis khas mahasiswa.
Di luar meja kami, terdapat percakapan lain; game, sepak bola, kisah cinta yang rumit, tugas kuliah, hingga perkara lingkungan di Halmahera. Obrolan-obrolan ini, pada game salah satunya, membuat kebisingan. Keadaan ini menunjukkan wajah lain dari Kopiam sebagai ruang relaksasi, eskapisme, dan pelarian dari tekanan akademik maupun personal. Yang itu dapat saya pahami, bahwa mereka lelah dan mencari pelipur dari sudut kopi. Juga dimaknai simbol dan perlawanan sehari-hari pada sistem akademik yang menuntut efisiensi dan nilai.
Dan di antara sekian banyak menu yang tersedia, kopi vietnam, gula aren dingin, roti bakar dan pisang nugget yang paling diminati. Untuk kopi vietnam, harganya 6.000 – 12.000, sedang es kopi gula aren 14.000. Kemudian pisang nugget dimulai dari 7.000 – 12.000 dan roti bakar 12.000. Pilihan menu ini barangkali bicara, – yang dalam diam – adalah telah mengetahui kopi ala mahasiswa (kopiam), menghemat tanpa mengorbankan gengsi.
Menu, Pendapatan, Asal Pekerja
Seiring waktu, dan informasi terbaru yang saya terima langsung dari manajer Kopiam, Kawi namanya, menjelaskan bahwa satu atau dua bulan kedepannya akan menaikan harga kopi yang tadinya 6.000 – 12.000 jadi 8.000 – 20.000. Lalu pada menu lainnya, khusus untuk roti bakar dan pisang nugget menjadi 14.000 dan 10.000. Bukan tanpa alasan. Kenaikan harga, di satu sisi, merupakan tuntutan atas pendapatan, di sisi lain, biaya hidup di tengah kehidupan kota. Juga naiknya harga biji kopi pula.
Pada aspek pendapatan, menurut Kawi, menghitung berdasarkan per-hari, mengingat Minggu dinyatakan hari libur. Seluruh yang diterima 200.000 x 26 (hari) – dan kalaupun dihitung maka sebesar 5.200.000. Yang sebelumnya diperoleh pada kisaran 4 sampai 3 jutaan. Segalanya dilihat dari kata “tergantung”, kondisi di mana munculnya para pengunjung.
Di samping itu, para pekerja ini terdiri dari 2 laki-laki dan 4 perempuan. Semuanya berasal dari Desa Gemia, Kec. Patani Utara, Halmahera Tengah. Juga tanah yang ditempati tersebut disebut hak kepemilikan dari Ila dikontrak oleh Kopiam. Dan Kopiam ini dibuka sejak tahun 2020, yang pemiliknya berasal dari Tomohon, Kurnia, kini mendiami Kota Manado.
Persilangan Kampus, Persilangan Gagasan
Meski Kopiam sebagai tempat biasa, ia jadi titik temu mahasiswa dari pelbagai kampus swasta maupun negeri. Tidak jarang dari obrolan santai, timbul gagasan kritis. Dari diskusi tentang game, beralih kritik atas industri kapitalis. Dari nostalgia, tiba pembahasan politik kampus. Dari Halmahera hingga bincang gerakan mahasiswa, dari kisah asmara sampai putus asa, dan berikutnya, kebijakan daerah yang tidak berpihak kepada warganya.
Jika dibaca – secara cermat – batas-batas formal antar kampus, fakultas, bahkan kelas sosial bisa laur walau tidak sepenuhnya hilang. Dan Kopiam mempertemukan mahasiswa yang dulunya tidak saling kenal kemudian berubah menjadi kawan di tengah runding dan, sesekali lawan debat. Inilah fakultas mini dalam versi Kopiam; cair, terbuka dan penuh kemungkinan.
Akhir yang Terus Berulang
Waktu di Kopiam tak pernah linear. Ia bisa melompat dari tahun 2020 ke 2025 hanya dengan satu senda gurau. Setiap sore atau malam hari, dimanfaatkan bukan untuk pertemuan semata, malainkan juga “pengulangan”. Cerita yang sama diulang oleh tokoh yang berbeda, dengan narasi yang terus berubah.
Dan saya kembali ke meja tersebut. Meja yang berukuran tak besar, tetapi cukup menampung dua arah percakapan; satu dari masa lalu yang kini ditempati, satunya lagi menuju arah depan. Dan Kopiam tidak “menjanjikan masa depan”, ia hanya “menyediakan ruang.” Pada akhirnya, “Kopiam” bukan samata-mata dikenal sebagai istilah, malah sebaliknya mengenal fakta keseharian yang membangun kebermaknaan dan keberlanjutan. (*)


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.