Sementara angka kelahiran remaja umur 15-19 Tahun (Age Specific Fertility Rate/ASFR 15-19) kata dia, mencapai 106,38 persen dengan target 35 kelahiran per 1.000 WUS 15-17 dan capaian 32,9 persen.
Kemudian untuk indeks pembangunan keluarga (iBangga) mencapai 99,54 persen dengan target 62,44 dan capaian 62,15 persen, serta median usia kawin pertama perempuan (MUKP) mencapai 101,36 persen dengan target 22,1 dan capaian 22,4 persen.
Nopian juga menyinggung data prevalensi stunting di Maluku Utara berdasarkan hasil SSGI Tahun 2022 mengalami penurunan sebesar 1,4 persen dari 27,5 persen menjadi 26,1 persen, dan berdasarkan data SKI Tahun 2023 angka stunting Maluku Utara mengalami penurunan sebesar 2,4 persen menjadi 23,7 persen.
“Penurunan angka stunting di Maluku Utara ini terbilang cukup tinggi, namun masih di atas rata-rata nasional yaitu 21,5 persen. Oleh karena itu, kondisi ini diperlukan upaya-upaya nyata yang memberikan dampak terhadap penurunan stunting agar dapat mengejar target 14 persen di tahun 2024 ini,” jelas Nopian.
Ia juga memberikan apresiasi karena Maluku Utara bahwa dua tahun berturut-turut dari tahun 2022 sampai 2023 memiliki serapan Dana Alokasi Khusus (DAK) tertinggi yaitu di atas 95 persen.
“Tidak kalah penting adalah kualitas dari serapan DAK itu sendiri. Artinya akuntabilitas belanjanya terjamin dan bisa berguna bagi masyarakat luas,” ucap dia.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.