Kita tentu tak bisa mewariskan legacy tak baik di sisa usia yang kelak akan sarat dengan potensi konflik. Anak-anak dan cucu-cucu kita hari ini hingga kelak nanti, akan sangat potensial menjadi orang-orang yang cukup pengetahuan karena pendidikannya. Jangan nanti kita dikenang sebagai para para orang tua yang salah mewariskan pelajaran kehidupan.

Fakta di sekitar kita, memberi kita cukup banyak pelajaran kehidupan soal waris mewaris ini. Mulai dari retaknya hubungan kekerabatan dan kekeluargaan, anak yang tak lagi menghargai orang tua, pertengkaran terbuka di ruang publik, bahkan hingga berakhir di ranah hukum negara karena saling lapor. Ini tentu fakta-fakta miris yang tersaji telanjang di depan kita dan tak bisa ditutupi.

Saya bahkan hingga berkonklusi begini, untuk mengingatkan sesama para cucu di keluarga kami bahwa menjadi kaya raya belum tentu berakhir menyenangkan jika telah berhadapan dengan soal harta warisan. Kakak beradik yang begitu kuat kasih sayang dan ikatan kekeluargaannya karena hubungan darah sejak kecil di keluarga, harus berhadapan dengan fakta saling bermusuhan tak berkesudahan di usia senja. Bukankah ini adalah contoh paling faktual tentang kegagalan membangun esensi kekeluargaan atas dasar hubungan darah tadi, sebuah potret kegagalan paling mengerikan karena ketamakan dan kerakusan.

Saya jadi mengingat potongan “syair lagu cinta” yang paling saya sukai: bukan perpisahan yang ku tangisi tetapi pertemuan yang ku sesali. Idem dengan soal ini, jika tahu bahwa kelak hubungan kekeluargaan atas dasar pertalian darah ini harus hancur berkeping-keping di usia senja, yang secara logis sekaligus biologis, bisa dibilang saja menjelang kematian, buat apa kita harus terlahir dengan pertalian hubungan darah begini.

Banyak dari kita, yang karena kerakusan dan ketamakannya, hukum agama tak lagi penting. Hidup kita bahkan diabdikan demi harta dan jejak duniawi lainnya. Bahwa keindahan tertinggi dalam sebuah ikatan kekeluargaan karena pertalian darah itu adalah melanjutkan legacy baik para orang tua hingga kakek dan seterusnya ke atas, itu tak lagi terjadi. Hidup menjadi gersang dan jauh dari senda gurau berkeluarga hingga cerita nostalgia.

Di WAG kami, beberapa kami yang berstatus sebagai cucu, terkhusus yang laki-laki, saya sering berpesan untuk mengambil pelajaran kehidupan dari banyak fakta yang terlintas, bahwa “silent operation” para isteri kita dalam mendikte para suami soal harta waris dari garis suami, sering jadi pengalaman sekaligus akhir paling buruk, yang terkadang meruntuhkan segala cita rasa kekeluargaan dan legacy baik yang dibangun sejak lama dan berakhir seketika.

Banyak dari kita, telah cukup punya pengetahuan betapa tak abadinya harta. Tetapi di mata orang-orang rakus dan tamak, semua pengetahuan baik hingga pelajaran kehidupan yang kita temui, tak akan berarti banyak. Tak usah berpendapat banyak, cukup saja mengkaji betapa sedemikian pentingnya hal itu untuk jadi pengingat bahwa Tuhan, hingga menyisakan sedikit ruang-Nya mengingatkan kita pada pesan-Nya: Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan [bagimu], dan di sisi Allah pahala yang besar. Dan Nabi mengingatkan kita, bahwa bagi setiap umat ada fitnahnya [ujian], dan fitnah bagi umatku adalah masalah harta. Wallahua’lam. (*)