Ia menambahkan, penyebab Maluku Utara sangat sulit memproduksi pakan lantaran untuk membuat pakan perlu adanya perusahaan minyak, perusahaan ikan, dan dedak. Hal inilah yang belum bisa dipenuhi.
“Harga pakan di pasaran saat ini mencapai harga Rp 600 ribu per karung, makanya banyak permintaan ternak ayam yang kami kasih namun kolaps di perjalanan,” cetusnya.
Ia menambahkan, sentra produksi ternak terbagi atas ayam, sapi dan kambing. Biasanya, kata Mukhtar, permintaan berdasarkan kelompok namun disesuaikan dengan anggaran yang ada.
“Memang permintaan ternak di Malut sangat tinggi namun lagi-lagi terkait keterbatasan, maka kita harus lihat skala prioritas,” ujarnya.
Terlepas dari ternak ayam, dinas ini masih mengandalkan tanaman hortikultura sebagai komoditas unggulan di Maluku Utara.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.