“Kami harap pemerintah tidak fokus pada beberapa komoditas tanaman saja. Banyak tanaman yang perlu diperhatikan. Belum lagi, kopi memiliki banyak variasinya,” terangnya.
Dia menambahkan, kandungan kafein pada biji kopi di Maluku Utara berbeda-beda.
“Hasil analisis kafein pada sampel kopi di Pulau Sula dan Halmahera ditemukan bahwa kopi Robusta Sula dan Robusta Desa Tului Pulau Halmahera memiliki kadar kafein tinggi. Kadar tersebut merupakan kadar kafein alami pada masing-masing kopi di setiap pulau yaitu Pulau Halmahera dan Pulau Sula. Sedangkan kadar kafein rendah yaitu kopi Liberika yang berasal dari Pulau Morotai,” jabar Natsir.
“Kadar kafein ini berhubungan dengan tingkat kematangan petik buah kopi. Hasil petik buah kuning dan hijau mungkin lebih rendah karena pembentukan senyawa pada biji kopi belum optimal. Selain itu, kondisi tanah dan iklim mempengaruhi kandungan kafein pada biji kopi di setiap pulau,” sambungnya.
Tak hanya itu, ada perbedaan cita rasa biji kopi yang diolah secara tradisional oleh masyarakat adat Moloku Kie Raha berdasarkan pulau.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.