Oleh: Herman Oesman
Dosen Sosiologi FISIP UMMU

______

ENTAH bagaimana ceritanya, tetiba roda waktu itu telah menghempasku pada suatu tempat. Tatkala angin semilir tengah membelai perut bumi, dalam suatu kesempatan, aku telah duduk bersama seorang tua tepat di depan lanskap sebuah kota di pantai Mediterania Afrika Utara, tepatnya Kota Tunisia. Ini dapat kubaca dari beberapa plank nama yang terpasang di sudut taman kota. Tak tahu siapa yang memulai, kami akhirnya berbincang-bincang segala hal. Dari raut wajahnya, menunjukkan kesalehan pribadinya dan kedalaman ilmu yang dimilikinya. Pilihan diksi dan tutur katanya lembut penuh makna, menghunjam tepat pada labirin kesadaranku. Tatap matanya teduh mengisyaratkan keluasan pengalaman hidupnya.

“Orang ini bukan orang biasa,” gumamku.

“Anak muda, sampai di mana pembicaraan kita tadi?” hening seketika pecah. Dari tangannya sebuah buku tebal berwarna kusam hampir kecoklatan tengah digamit, satu jari memberi tanda halaman yang dibacanya.

Aku mencoba merangkai ingatan, kemana arah pembicaraan kami sejauh ini. Ups, memang yang belum terungkap adalah siapa orang tua ini. Sesuatu yang belum dia utarakan sejak tadi. Pikiranku bermain-main, mencoba mengguratkan garis-garis wajahnya secara imajiner dari berbagai sumber yang pernah kubaca dan kulihat.

“Sepertinya aku mengenal orang tua ini. Tapi di mana dan kapan?” pikirku seketika menerawang jauh.

“Oh ya, kepada Anda sapaan apa yang pantas kuberikan, karena di antara kita belum saling mengenal.” Segudang keberanian yang sedari tadi terkumpul dengan terpaksa kulontarkan untuk membenarkan imajinasi guratan wajah dalam pikiranku.

“Haha (tertawa lepas), aku sudah menerka dari air mukamu anak muda. Baiklah (sembari memperbaiki letak duduknya). Namaku Abdul Rahman Ibnu Khaldun. Aku dilahirkan di wilayah ini, Tunisia, pada Ramadhan 732 H, tepatnya tanggal 27 Mei 1332 M. Bagaimana sudah cukup?” Senyum bijaknya tertuju padaku. Seketika aku pun hampir merasa terjatuh dari tempat duduk, karena kaget ketika orang tua itu menyebut namanya.

“Kalau tidak salah nama itu lebih dikenal dengan nama Ibnu Khaldun,” jawabku sedikit kaget.

“Tidak salah anak muda. Nama itu yang lebih dikenal orang,” ucapnya makin merendah.

“Aku telah membaca buku maha karya Anda, Muqaddimah. Suatu buku, yang tidak saja mengupas tuntas tentang as-ashabiyah, tentang solidaritas sosial para kaum kabilah, tetapi juga Anda banyak menyinggung soal dasar-dasar filsafat sejarah, sosiologi politik, kepemimpinan, perebutan kekuasaan, peradaban manusia yang muncul dan hancur, organisasi, kota sebagai institusi sosial, kedaulatan negara, pembagian kerja dan dinamika perekonomian, kewibawaan, dan segala macam. Dan, kukira karya Anda itu sampai sekarang masih sangat terasa aktualitasnya. Bahkan di kalangan ilmuwan sosial dunia, menempatkan pemikiran dan diri Anda sebagai avant garde bagi ilmu-ilmu sosial.”