Tandaseru — Isu rasisme yang ramai berkembang di Kota Ternate, Maluku Utara belakangan ini membuat Pusat Studi Mahasiswa Ternate (PUSMAT) angkat bicara. Organisasi kemahasiswaan ini menyesalkan sikap oknum-oknum tertentu yang menyerang pendemo penolakan Undang-undang Cipta Kerja (Omnibus Law), apalagi yang membawa-bawa nama daerah.
Ketua PUSMAT Hasrillah Tari K. Kulujum Alfiris dalam siaran persnya menyatakan, PUSMAT meminta maaf kepada seluruh masyarakat, rekan-rekan mahasiswa dan semua pihak yang merasa tersinggung dengan penyataan sejumlah oknum yang membuat unggahan bernada rasisme.
Hasrillah juga menyampaikan enam poin sikap PUSMAT menanggapi isu rasialisme tersebut. Pertama, PUSMAT mengecam keras tindakan rasisme yang dilakukan oknum dosen sebagai tindakan tidak terpuji bagi seorang akademisi di lingkup Pendidikan Tinggi. Kedua, mengecam keras tindakan rasisme akun Facebook atas nama Qomaruddin Muhammad Thezar dan akun Instagram Status Ternate sebagai tindakan tidak terpuji.
“Kemudian PUSMAT mengajak kawan-kawan dan pihak yang merasa tersinggung untuk bersama-sama menempuh jalur hukum sebagai upaya memberikan efek jera pada oknum-oknum pelaku rasisme tersebut,” tutur Hasrillah, Sabtu (10/10).
Keempat, mendesak ketiga pelaku rasisme untuk meminta maaf kepada publik dengan menggunakan akun media sosial pribadi miliknya dan/atau menggunakan media lainnya. Kelima, mengimbau kepada seluruh mahasiswa Ternate untuk menjadikan ini sebagai pelajaran agar dijadikan edukasi publik bahwa tindakan baik lisan maupun tulisan berkaitan dengan rasisme tidak boleh dibenarkan dengan alasan apapun.
“Serta mengajak seluruh elemen mahasiswa di Kota Ternate untuk tetap concern pada isu penolakan/pencabutan Omnibus Law dan tidak terprovokasi dengan isu rasial di Malut. Demikian, syukur dofu-dofu, semoga kita selalu hidup berdampingan tanpa diskriminasi suku, ras dan agama (SARA),” pungkas Hasrillah.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.