Oleh: Anwar Husen
Kolomnis/Tinggal di Tidore
_______
SEORANG kawan saya, muazin tetap pada sebuah masjid mengungkap, ketika saya menanyakan kabarnya beberapa waktu tak terdengar suara azannya di menara masjid. Dia bilang, sudah seminggu kerongkongannya sakit. Saya menyarankannya untuk sering membasahi kerongkongan dengan air jeruk hangat. Saya pikir, itu pertolongan paling maksimal untuk ukuran apa yang dia rasakan. Kadang bikin lucu dari pengakuannya bahwa gejala begini sudah sering berulang. Kami bertemu, ketika sedang memenuhi undangan pembacaan doa dari tetangga yang dirundung duka beberapa waktu lalu.
Meski sebetulnya saya agak kesal tetapi saya tak mau membuatnya tersinggung. Saya merasa telah berulang kali mengingatkannya untuk tidak memaksakan suaranya di saat terik dan menjaga jarak mic saat azan.Tetapi kerap berulang “kesalahan”nya. Dia memang terkesan awam, kurang mengerti tentang efek yang bisa terjadi jika tak hirau atas nasihat saya itu. Tenor suaranya tetap menggelegar bak guntur saat azan, memekakkan telinga hingga kadang dia terbatuk-batuk. Juga karena temponya begitu cepat, seolah sedang takut dikejar atau tertinggal pesawat.
Sangat kontras bila mic “pindah tangan” ke muazin lainnya, enak kedengarannya. Mungkin juga tak ada yang mengingatkannya, atau kawan ini sengaja tak mau tahu karena telah keasyikan. Kadang saya, hingga senyum-senyum karena merasa sepertinya lucu, ketika di toa masjid itu, terdengar ada “insiden” saat dia mengumandangkan azan. Ada tetangga juga yang sering mengingatkannya. Saya paham, banyak yang merasa kurang sreg tetapi itu dipendam saja. Mungkin mereka berpikir simpel, tak mau ada yang tersinggung hingga risiko punya kediaman berhimpitan masjid.
Sampai di sini, saya punya kesimpulan sendiri: mengingatkan orang yang paham tentang potensi buruk yang diterimanya dalam hal apa saja, akan lebih mudah ketimbang orang yang tak paham tetapi keras kepala atau “kapala gaya”, gaya-gayaan.
Sudah sering, saya melewati jalur belakang gunung saat pergi-pulang pelabuhan Rum, Tidore. Sudah biasa, di jelang waktu Magrib, kumandang pengajian di toa masjid memecah hening di senja hari. Ibadahnya lima hingga sepuluh menit tetapi pengajian ini bisa sejam atau lebih. Itu kebiasaan masyarakat kita, tak mempan diatur dengan surat edaran Kementerian Agama sekalipun. Dalam batas tertentu, tidak apa-apa.
Macam-macam langgamnya dari masjid ke masjid. Sambil berkendara, kadang kita punya penilaian sendiri. Umumnya tilawah biasa, tapi ada yang dengan terjemahannya, secara tartil, yang tinggi nilai edukasinya. Sedangkan jenis murrotal, pengajian cepat dan “tanpa spasi”, mungkin hanya di satu masjid, di senja itu.
Saya kerap merenungi hingga membanding-bandingkan mana yang paling baik kalau mau dipilih. Mungkin kita setuju, pengajian dengan terjemahannya yang paling logis untuk kita biasakan. Kita tak paham bahasanya maka perlu ada artinya. Akal sehat semua orang akan setuju ini. Kalau tak ada, barulah tilawah dengan langgam biasa meski tanpa terjemahannya. Biar tak paham artinya, minimal “bikin diri” paham. Meski tak terlalu paham maksudnya, minimal masih ada spasi atau jeda di sela-selanya. Mungkin bisa memberi kesempatan tetangga kita di samping masjid “ada waktu” untuk mengobrol. Opsi paling terakhir jika sudah tak ada lagi “jenis” tadi di toko kaset, barulah kita pilih jenis murrotal, yang tanpa spasi itu.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.