Oleh : Suhardy Hamid Rajji
Pengurus Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP) Malut dan Relawan Rumah Baca Belo-Belo Haltim
______
“Untuk membangun Halmahera Timur, kita perlu membangun komitmen kolaborasi untuk membenahi seluruh persoalan yang sedang kita hadapi. Yakni, persoalan infrastruktur, SDM dan kemiskinan…”
INI isi pesan dalam sambutan Bapak Bupati Ubaid Yakub pada kegiatan Musancab Partai PDIP kemarin yang bisa saya pahami. Pesan yang sudah seringkali saya dengar di berbagai kesempatan kegiatan ketika Pak Bupati menjadi pembicara. Terutama ketika Bupati diminta menjadi pembuka acara dalam setiap kegiatan organisasi yang mengundang Bupati. Bahwa Bupati menaruh harapan besar terhadap seluruh elemen yang ada di Haltim, dengan harapan bersama-sama untuk menuntaskan permasalahan yang ada.
Beberapa hari setelah sambutan itu, BPS merilis daerah termiskin se-Provinsi Maluku Utara adalah Halmahera Timur, dengan total persentase 15% dari jumlah penduduk atau kurang lebih 13.900an warga Haltim hidup dalam garis kemiskinan. Jika dibagi merata pada setiap kecamatan yang ada, maka masing-masing dari jumlah 10 kecamatan menyumbang 1.300an warga miskin. Tren ini berturut-turut disandang Haltim dalam kurun waktu 5 tahun terakhir.
Ini menunjukkan berbagai program pemerintah daerah belum mampu menekan laju angka kemiskinan, apalagi di tengah-tengah situasi pandemi saat ini.
Sementara Haltim yang merupakan daerah dengan izin operasi pertambangan terbanyak di Provinsi Maluku Utara dengan perusahaan raksasa BUMN sekelas Antam pun tidak begitu mempengaruhi kondisi kemiskinan di Haltim yang menahun.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.