Oleh: Agus SB
(Penikmat Kopi)
______
KEBIASAAN meracik (mencampur) satu unsur makanan atau minuman dengan unsur pangan lainnya boleh jadi sepurba kebiasaan makan dan minum manusia. Dalam survei literatur mengenai makanan dan kebiasaan makan manusia di masa lalu, sejak zaman Phitecanthropus, Prof. T. Jacob menunjukkan manusia bersifat omnivora dengan kecenderungan pada carnivora atau herbivora, tergantung pada keadaan lingkungan dan tradisi. Studi-studi yang diacunya memperlihatkan manusia dalam pola dietnya mengombinasikan antara pangan nabati dan hewani, sebagai makanan pokok dan atau tambahan, dimakan mentah atau masak matang (1999/2000: 293-295). Kebiasaan tersebut, boleh jadi, diwarisi manusia pada saat ini dan, karena itu, juga mewarisi selera pada jenis makanan dan minuman tertentu. Tetapi selera manusia nampaknya tidak terhenti semata terhadap makanan dan minumanyang diwarisi. Selera berkembang atau berubah seiring perubahan kebiasaan makan, perubahan pengetahuan, maupun teknologi pangan.
Manusia, karena itu, dapat dikatakan sebagai makhluk penjelajah selera, dalam arti selalu mencari kebaruan dengan cara mengolah dan mengombinasikan secara trial and error beragam unsur-unsur pangan untuk menciptakan makanan atau minuman baru dan unik, khas. Sebagai contoh, eksplorasi berbagai bahan pangan yang tersedia untuk menghasilkan jenis minuman stimulan yang khas dan baru seperti Kopi Upai, Kopi Dabe dan Kopi Nyiru. Kreativitas ini pada gilirannya menciptakan selera pembuat dan para calon penikmat. Kopi Dabe, belum pernah saya menyeruputnya, terdapat di sebuah Kafe di dalam areal Hotel (?) Bukit Pelangi, Ternate. Kopi Nyiru, pernah saya teguk, terdapat di Fala Kafe, Dufa-Dufa, depan kampus IAIN Ternate. Kopi Upai pernah saya seruput di sebuah kafe di kawasan Falajawa Dua, Ternate, namun kini telah tutup. Ketika kopi Nyiru diseruput, lamat-lamat saya merasakan sedikit rasa pedas tetapi tak lama kemudian pudar. Racikan stimulan kopi Upai terasa lembut pada saat diseruput. Rasa dan aroma Kopi Nyiru maupun Kopi Upai membentuk ingatan pada keduanya. Sebagaimana rasa buah durian atau rasa jenis makanan dan atau minuman lainnya,setelah dimakan atau diminum, pengalaman rasa akan teringat lagi ketika melihat atau mendengar nama buah atau minuman itu. Rasa, bahkan aroma, stimulan ini tidak mudah dilupakan. Indra cecapan dan ingatan pada rasa dan aroma makanan atau minuman, boleh jadi, juga menyumbang pada kuat bertahannya kebiasaan makan dan minum seseorang, sebuah komunitas etnik, bahkan sebuah bangsa, di samping faktor kepercayaan dan simbolisasi pada makanan dan minuman yang dikonsumsi.
Entah bagaimana mulanya penemuan ketiga varian kopi racikan tempatan ini. Ketiganya hasil kreativitas cerdas meracik bubuk kopi dengan bahan rampa rampa (rempah-rempah) tempatan yang menghasilkan rasa (pada cecapan) dan aroma yang berbeda satu dengan lainnya. Ketiganya hasil olahan cara berpikir divergen —gunakan istilah Wilcox (2001/2006 Ind.;179)– untuk menghasilkan rasa dan aroma yang unik, menjadi pembeda dari yang lain, menciptakan kekhasan masing-masing. Kopi Upai adalah racikan bubuk kopi dengan bubuk dari buah salah satu jenis tanaman menjalar; Kopi Dabe dan Kopi Nyiru merupakan hasil racikan antara kopi dengan bahan rampa-rampa yang sama namun dengan cara meracik yang berbeda sehingga menghasilkan rasa dan aroma yang berbeda (sengaja saya tak mengungkap nama rempahnya).


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.