Oleh: Herman Oesman
Dosen Sosiologi FISIP UMMU
_______
“…Buku mengajarkan kita untuk berpikir, merasakan, dan memahami dunia secara lebih utuh…”
SETIAP tanggal 23 April, dunia memperingati Hari Buku Sedunia. Inilah sebuah momentum global yang diinisiasi UNESCO untuk merayakan kekuatan buku, membaca, serta pentingnya hak cipta. Peringatan ini bukan sekadar seremoni semata, melainkan pengingat, bahwa buku merupakan fondasi peradaban manusia. Namun, Hari Buku Sedunia perlahan-lahan seolah senyap…
Di dalam buku, tersimpan pengetahuan, imajinasi, sejarah, dan masa depan.
Buku telah menjadi medium utama dalam transmisi pengetahuan lintas generasi. Dari manuskrip kuno hingga buku digital, ia tetap memegang peran strategis dalam membentuk cara manusia berpikir dan memahami dunia.
Dalam pandangan sosiologi, buku bukan hanya benda mati, tetapi juga produk budaya yang mencerminkan nilai, ideologi, dan struktur sosial masyarakat (Escarpit, 1971). Buku merupakan cermin sekaligus pembentuk realitas sosial.
Sejarah mencatat, bahwa kemajuan peradaban selalu beriringan dengan perkembangan literasi. Revolusi cetak yang dipelopori Johannes Gutenberg pada abad ke-15 menjadi titik balik penting dalam demokratisasi pengetahuan (Eisenstein, 1979).
Dengan hadirnya mesin cetak, buku tidak lagi menjadi barang eksklusif kaum elit, tetapi mulai menjangkau masyarakat luas. Inilah awal dari transformasi besar dalam pendidikan, agama, dan politik di dunia modern.
Namun, di tengah arus digitalisasi yang masif, posisi buku acap dipertanyakan. Apakah buku masih relevan di era media sosial dan kecerdasan buatan? Jawabannya, iya, dan bahkan semakin penting. Buku menawarkan kedalaman berpikir yang tidak selalu dapat diberikan oleh media instan.
Nicholas Carr (2010) dalam The Shallows mengingatkan, bahwa internet cenderung mendorong pola pikir dangkal, sementara membaca buku melatih konsentrasi, refleksi, dan kemampuan analitis.
Dalam konteks Indonesia, tantangan literasi masih menjadi pekerjaan rumah besar. Data dari Programme for International Student Assessment (PISA) memperlihatkan, bahwa tingkat literasi membaca siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata.
Ini menegaskan bahwa budaya membaca belum sepenuhnya mengakar dalam kehidupan masyarakat. Padahal, seperti yang dikemukakan para ahli, membaca bukan sekadar mengenali huruf, tetapi memahami dunia (reading the word and the world).
Hari Buku Sedunia seharusnya menjadi momentum reflektif untuk meninjau kembali hubungan kita dengan buku. Apakah kita masih menjadikannya sebagai sahabat intelektual, ataukah telah tergantikan oleh arus informasi yang serba cepat namun dangkal, masihkah buku menjadi jendela pengetahuan dunia?
Di banyak wilayah Indonesia, akses terhadap buku masih terbatas. Distribusi yang tidak merata, minimnya perpustakaan, serta rendahnya daya beli masyarakat menjadi faktor penghambat tumbuhnya budaya literasi.
Di sinilah pentingnya intervensi kebijakan dan gerakan sosial.
Pemerintah, lembaga pendidikan, dan komunitas harus bersinergi untuk membangun ekosistem literasi yang inklusif. Program seperti perpustakaan desa, perpustakaan pulau, peepustakaan terapung, taman baca masyarakat, dan gerakan donasi buku perlu diperkuat. Selain itu, digitalisasi buku juga dapat menjadi solusi alternatif, asalkan diiringi dengan akses internet yang memadai dan literasi digital yang kritis.
Buku juga memiliki dimensi emansipatoris. Buku dapat menjadi alat pembebasan dari kebodohan dan ketertindasan. Dalam sejarah perjuangan bangsa, buku memainkan peran penting dalam membangkitkan kesadaran nasional.
Karya-karya atau tulisan-tulisan R.A. Kartini, Soekarno, Hatta, Tan Malaka, dan sebagainya, menunjukkan bagaimana buku dapat menjadi senjata ideologis dalam melawan kolonialisme dan ketidakadilan.
Dalam konteks kekinian, buku juga menjadi ruang artikulasi bagi kelompok marginal, termasuk perempuan, masyarakat adat, dan komunitas lokal, untuk menyuarakan pengalaman dan pengetahuan mereka. Ini sejalan dengan pandangan bell hooks (1994) bahwa literasi merupakan praktik kebebasan, literacy as the practice of freedom. Buku membuka ruang dialog yang setara dan memungkinkan lahirnya narasi alternatif di luar arus utama. Namun demikian, kita juga perlu kritis terhadap industri buku itu sendiri.
Komersialisasi yang berlebihan dapat menggeser fungsi buku dari medium edukatif menjadi sekadar komoditas pasar.
Dalam teorinya tentang field of cultural production, Bourdieu (1993) menjelaskan, bahwa produksi budaya, termasuk buku, tidak lepas dari relasi kekuasaan dan kapital. Karenanya, penting untuk menjaga keseimbangan antara nilai ekonomi dan nilai intelektual dalam dunia perbukuan.
Di Hari Buku Sedunia ini, kita juga diingatkan akan pentingnya perlindungan hak cipta. Penulis, penerjemah, dan penerbit memiliki hak atas karya mereka. Tanpa perlindungan yang memadai, kreativitas dapat terhambat. Namun pada sisi lain, akses terhadap pengetahuan juga harus dijamin. Ini menjadi dilema klasik antara hak eksklusif dan kepentingan publik. Solusinya terletak pada kebijakan yang adil dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Di era digital, bentuk buku memang berubah, tetapi esensinya tetap sama, yaitu, menyampaikan gagasan. E-book, audiobook, dan platform membaca daring membuka peluang baru bagi penyebaran literasi. Masyarakat, terutama generasi muda kini dapat mengakses ribuan buku hanya melalui gawai. Tantangannya, bagaimana memastikan bahwa akses tersebut diiringi dengan kemampuan berpikir kritis dan reflektif.
Akhirnya, memperingati Hari Buku Sedunia bukan hanya tentang membaca lebih banyak, tetapi membaca dengan lebih dalam. Buku mengajarkan kita untuk berpikir, merasakan, dan memahami dunia secara lebih utuh. Buku merupakan jendela yang membuka cakrawala, sekaligus cermin yang memantulkan diri kita sendiri.
Di tengah dunia yang kian kompleks dan penuh disinformasi, buku tetap menjadi kompas intelektual yang dapat menuntun kita menuju pemahaman yang lebih jernih.
Maka, merayakan buku berarti merayakan kemanusiaan itu sendiri, dengan segala pengetahuan, imajinasi, dan harapan yang dikandungnya. (*)


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.