Oleh: Syarifuddin Usman
Dosen Ilmu Pemerintahan FISIP UMMU
_______
DALAM perspektif teori sirkulasi elite yang dikemukakan oleh Vilfredo Pareto (1916), keberlangsungan sebuah organisasi—termasuk partai politik—sangat ditentukan oleh kemampuannya melakukan pergantian elite secara periodik dan sehat. Ketika sirkulasi elite terhambat, maka organisasi tersebut berpotensi mengalami stagnasi, bahkan kemunduran struktural.
Fenomena yang terjadi di tubuh DPD Partai Golkar Maluku Utara menunjukkan indikasi kuat ke arah tersebut. Kepemimpinan yang didominasi oleh figur yang sama dalam beberapa periode, bahkan berpotensi berlanjut ke periode berikutnya, memperlihatkan adanya keterbatasan ruang kompetisi elite. Data menunjukkan bahwa struktur kepengurusan DPD Golkar Maluku Utara masih dipimpin oleh figur yang sama dalam beberapa periode terakhir, sementara dinamika menjelang Musda juga memperlihatkan dominasi figur lama dalam kontestasi internal.
Ada enam hal yang menjadi landasan jika sirkulasi elite tidak terjadi dalam tubuh partai. Apalagi partai sebesar Golkar yang dianggap sebagai partai yang penuh dinamika.
Absennya Sirkulasi Elite: Dari Kompetisi ke Dominasi
Dalam teori Pareto, elite yang terus mempertahankan kekuasaan tanpa regenerasi akan berubah menjadi elite tertutup (closed elite). Dalam konteks Golkar Maluku Utara terjadi kompetisi internal cenderung terbatas pada lingkaran yang sama. Kandidasi tidak sepenuhnya terbuka bagi kader yang lain, Mekanisme Musda berpotensi menjadi formalitas, bukan arena pertarungan gagasan. Akibatnya, suksesi bukan lagi proses seleksi kualitas, tetapi sekadar reproduksi kekuasaan.
Oligarki: Musuh dalam Selimut Partai
Ketika satu figur atau kelompok kecil terus menguasai partai, maka yang muncul adalah gejala oligarki internal: Pengambilan keputusan terpusat, Distribusi jabatan berbasis loyalitas, bukan merit, dan Struktur partai menjadi “tertutup” bagi kader di luar lingkaran inti.
Dalam kondisi ini, partai kehilangan karakter sebagai organisasi demokratis dan berubah menjadi kendaraan politik elite tertentu. Ciri-cirinya jelas, keputusan tersentralisasi, kritik dianggap ancaman, dan ini yang lebih miris; loyalitas lebih penting daripada kapasitas.
Dalam situasi seperti ini, partai bukan lagi alat perjuangan politik rakyat, melainkan alat pelanggeng kekuasaan segelintir elite. Dan sejarah politik mengajarkan satu hal; oligarki mungkin kuat dalam jangka pendek, tetapi rapuh dalam jangka panjang.
Matinya Regenerasi Kader
Tidak adanya sirkulasi elite berdampak langsung pada kaderisasi. Kader kehilangan ruang naik, potensi kader unggul tidak terakomodasi dan terjadi “brain drain” (kader keluar atau pasif). Padahal dalam logika Pareto, elite baru diperlukan untuk menjaga vitalitas organisasi. Tanpa regenerasi, partai akan mengalami keusangan struktur dan ide.
Konflik Terselubung dan Fragmentasi
Stagnasi elite tidak berarti tidak ada konflik—justru sebaliknya konflik menjadi laten (terselubung), bukan terbuka. Akan muncul faksi-faksi diam yang menunggu momentum dan potensi perpecahan meningkat saat momentum politik besar (misalnya Pemilu).
Penurunan Daya Saing Politik
Partai yang tidak mengalami sirkulasi elite cenderung kurang adaptif terhadap perubahan sosial-politik. Selain itu kehilangan kedekatan dengan pemilih baru (generasi muda) dan terjebak pada pola lama yang tidak lagi relevan
Dalam jangka panjang, ini berpotensi menyebabkan penurunan elektabilitas, melemahnya basis massa dan kekalahan dalam kontestasi politik.
Legitimasi yang Melemah
Banyak teori yang menyatakan bahwa kepemimpinan yang terlalu lama tanpa kompetisi sehat akan menghadapi krisis legitimasi sehingga dipersepsikan sebagai “pemaksaan kekuasaan”. Tak hanya itu, kepemimpinan yang terlalu lama juga dapat menurunkan kepercayaan kader internal dan mengurangi kepercayaan publik terhadap partai.
Dalam kacamata Vilfredo Pareto (1916), kondisi seperti ini adalah tanda klasik dari elite yang menutup diri. Pareto sudah lama mengingatkan elite yang enggan digantikan pada akhirnya tidak hanya melemah, tetapi juga menyeret organisasi ke dalam krisis. Sebab, kekuasaan yang terlalu lama berada di tangan yang sama cenderung kehilangan dua hal penting—energi pembaruan dan sensitivitas terhadap perubahan.
Dalam teori Pareto, kondisi ini adalah tanda bahwa elite lama sudah mulai kehilangan energi sosial dan legitimasi moral. Golkar Maluku Utara tampaknya sedang berjalan ke arah itu.
Partai politik idealnya adalah arena kompetisi gagasan dan kaderisasi. Namun, ketika figur yang sama terus mendominasi, partai perlahan berubah menjadi lingkaran kekuasaan tertutup. Akses terhadap jabatan tidak lagi ditentukan oleh kapasitas, melainkan kedekatan.
Penutup: Antara Stabilitas dan Kemunduran
Tidak adanya sirkulasi elite di tubuh DPD Partai Golkar Maluku Utara memang dapat menciptakan stabilitas jangka pendek. Namun dalam jangka panjang, kondisi ini justru berpotensi melahirkan oligarki internal, stagnasi organisasi, konflik laten, krisis regenerasi dan penurunan daya saing politik.
DPD Partai Golkar Maluku Utara kini berada di persimpangan penting: melanjutkan tradisi kekuasaan yang itu-itu saja, atau membuka ruang sirkulasi elite yang sehat. Pilihan pertama menawarkan kenyamanan bagi elite lama. Pilihan kedua menawarkan masa depan bagi partai.
Sayangnya, sejarah sering menunjukkan bahwa banyak elite lebih memilih bertahan daripada berubah—hingga akhirnya perubahan datang bukan dari dalam, tetapi dipaksakan oleh keadaan. Sebagaimana ditegaskan oleh Vilfredo Pareto, organisasi yang sehat bukan yang mempertahankan elite lama, tetapi yang mampu mengganti elite secara teratur tanpa menghancurkan stabilitasnya.
Jika sirkulasi elite tidak segera dibuka, maka DPD Partai Golkar Maluku Utara berisiko tidak hanya kehilangan dinamika internal, tetapi juga kehilangan relevansi politik di masa depan.
Sirkulasi elite bukan ancaman, melainkan kebutuhan. Ia adalah tanda bahwa organisasi masih hidup, masih bernafas, dan masih punya harapan.
Jika DPD Golkar Maluku Utara terus menutup pintu bagi pergantian elite, maka yang akan terjadi bukan sekadar stagnasi—melainkan kemunduran yang pelan tapi pasti. Dan ketika itu terjadi, pertanyaan paling pahit akan muncul: apakah Golkar masih partai kader, atau sudah berubah menjadi milik segelintir orang saja? Wallahualam. (*)


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.