Hal itu bagi AHM bukan sesuatu yang mustahil. Untuk mewujudkan itu semua maka diperlukan kebijakan melalui perda dan menugaskan kepala kepala sekolah untuk mengarahkan setiap siswa lulusan sekolah untuk melanjutkan studi di daerah yang telah disediakan asrama. Hanya dengan begitu, APBD Kabupaten Pulau Taliabu akan turut dirasakan oleh kelompok bawah, dalam hal ini petani maupun mahasiswa.
Secara terpisah, Sashabila juga menyampaikan keprihatinannya terhadap masa depan kaum milenial, khususnya para mahasiswa yang tidak mendapat peluang kerja setelah menjadi sarjana karena keterbukaan peluang kerja dan motivasi kerja yang belum tercipta di daerah ini.
Kata dia, tak sedikit mahasiswa asal Taliabu yang setelah lulus kuliah takut kembali ke daerah sendiri karena tidak tahu akan mendapatkan dan atau melakukan pekerjaan yang sesuai dengan keilmuannya. Sehingga ia berharap Kabupaten Pulau Taliabu ke depan dapat membuka peluang yang sebesar-besarnya kepada lulusan sarjana untuk mengembangkan potensi keilmuannya dengan memanfaatkan keterbukaan lapangan kerja yang disediakan pemerintah daerah di masa depan.
“Sasha beberapa kali tanya-tanya sama teman-teman mahasiswa asal Taliabu yang lulusan sarjana kok tak kembali ke Taliabu? Kebanyakan mereka jawab ke Taliabu nanti kita kerja apa? Daripada nganggur jadi beban orang tua mending kita bertahan di daerah orang, masih ada peluang kerja,” ungkap Sasha.
Dari sedikit cerita tersebut, ia berharap pembangunan Taliabu ke depan tidak mengabaikan pemberdayaan masyarakat dan penciptaan peluang kerja yang sebesar-besarnya sesuai perkembangan zaman dan kondisi masyarakat.
“Di kampung-kampung di Taliabu juga Sasha telah banyak menyaksikan kurangnya pemberdayaan masyarakat bawah. Di bidang pertukangan, para nelayan dan petani kok mereka kayak begitu, dibiarkan berpikir sendiri gitu,” ucapnya prihatin.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.