Di ruangan yang sama, Daldeling (38 tahun), pria yang bertani sejak tahun 2011, mengaku lahan miliknya yang terdampak banjir seluas 1 hektare.

“Sebelumnya, waktu itu kan saya sama bapak saya sudah pernah menggarap ladang sawah di sana. Dalam satu kali panen 50-60 sak. Ketika kejadian banjir di tahun 2017 itu kita nggak bisa garap sawah lagi karena nggak bisa ditanami sampai sekarang,” kata Daldeling ketika ditemui Sabtu, 18 November 2023, malam.

Setelah banjir, Daldeling meminjam lahan milik teman untuk dikelola.

“Tadinya saya survei ke petani lain untuk menanam padi kembali di lokasi terdampak, tapi saya bingung karena nggak bisa panen. Sekarang saya garap di lokasi padi benih. Di lahan sendiri rumput liar telah tumbuh. Saya sekarang tidak ada penghasilan sama sekali cuma bergantung menanam rica (cabai, red), itu pun kalau panen. Sementara anak-anak saya sekolah hari-hari butuh uang,” katanya.

Saya petani padi sawah, sebelum ada perusahan/tambang nikel/PT ARA panen kami dalam satu hektare bisa mencapai 3 ton. Tapi setelah ada perusahan tambang nikel masuk desa kami panen kami kurang maksimal apalagi setelah lahan kami kena limbah perusahan lahan/ladang kami. Kami gagal panen. Bahkan sekarang lahan kami nggak bisa ditanam lagi,” ungkap Casmita dalam surat pernyataan yang ia tulis tangan pada tahun 2017.

Tidak hanya Casmita, ada beberapa petani sawah di Desa Baturaja lain juga menulis pernyataan dampak sawah mereka terkena banjir di tahun 2017 lalu.

Selain dirasakan petani sawah dari Desa Baturaja yang sangat dekat dengan aktivitas tambang, petani sawah di Desa Cemara Jaya juga merasakan dampak yang sama.

Ditemui di sela-sela aktivitas bersama petani memanen cabai, Siswandi (57 tahun), anggota kelompok Indra Kasih Desa Cemara Jaya, mengatakan hasil panen menurun ini selain faktor alam juga karena adanya aktivitas tambang.

“Ada dua hektare lahan, satu hektare ditanami rica yang satunya padi. Nah, padi itu saat panen cuma dapat tara (tidak, red) sampai 2 ton. Dulu kalau tanam serempak bisa mencapai 5 ton, paling sedikit 3 ton. Modal nggak balik, malah panen kemarin itu tombok sekitar Rp 700 ribu. Hasil panen bayar pekerja itu nombok,” jelasnya, Minggu, 19 November 2023.

Kata Siswandi, apalagi sekarang ini dampak tambang sudah sampai ke Desa Cemara yang memiliki lahan pertanian.

“Dulu, walaupun hujan air tetap jernih tetapi sekarang kelihatan cokelat kemerahan. Itu faktornya. Sekarang nggak sampai 50 persen petani yang menanam padi. Palingan tanaman padi sekitar 6 hektare itu kelompok saya,” akunya.

Akibat banjir, panen menurun sejak 3-4 tahun lalu hingga sekarang.

“Satu kali produksi waktu itu per hektare minimal Rp 12,5 juta. Bisa untung banyak sekarang ya nombok. Biaya semakin naik karena pupuk, biaya pengelolaan naik, biaya panen waktu itu Rp 1,2 juta, sekarang naik Rp 2 juta padahal hasilnya tidak sesuai,” terangnya.

Ia bilang, pengeluaran saat ini kalau dihitung-hitung tinggi, mulai dari sewa orang untuk membersihkan sawah saat musim panen yang tidak berimbang dengan penghasilan.

“Sewa orang untuk bersihkan sawah Rp 75 ribu per hari, dulu masih mendingan per hari Rp 50 ribu. Untuk memanen itu biasa dua kali sewa pekerja tergantung banyak panen. Dengan kondisi seperti ini, apa boleh buat tetap tanam padi hanya bisa bertahan. Ditanam hanya untuk makan, tidak untuk dijual. Panen kemarin saya tidak untuk dijual, masalahnya hanya 30 sak,” tuturnya.

Banjir tahun 2020 di Perumahan 50 Desa Baturaja, Kecamatan Wasile. (Dokumentasi Warga)