Oleh: Asghar Saleh
_______
“kalo ngona pake jilbab yang ona toa ge ua, akang ona tola nilai”
(kalau kamu tidak memakai jilbab yang diberikan panitia, nilaimu akan dipotong)
“kalo te ge ngori pake…pake ngaji bato, uci tora langsung kali”
(kalau begitu saya pakai, pakai saat mengaji, begitu turun saya lepas)
PERCAKAPAN dalam bahasa Tidore ini terjadi di belakang sebuah panggung yang megah di Kuala Lumpur. Kala itu, November 2003, ratusan peserta Musabaqah Tilawatil Quran tingkat Internasional tengah berebut jadi yang terbaik. Jutaan mata dari berbagai belahan dunia menatap sambil berharap wakil negaranya jadi juara. Diah –nama kecil dari Djihadiah Badar, qoriah juara nasional sedang memberontak. Ia tak mau mengganti jilbabnya. Tak ada kompromi.
Uztad Hasan Basri, pelatih yang saban hari mendampingi Diah kehabisan akal melihat sikap keras kepala perempuan dari desa Gurabunga – sebuah pemukiman tradisional yang terletak 600 meter di atas permukaan laut Tidore. Tersisa hitungan menit Diah akan tampil. Hasan lalu berbisik pada uztad Ibrahim Muhammad yang jadi pendamping. “Pakai bahasa Tidore agar Diah mau mengalah”. Lalu terjadilah percakapan itu.
Keduanya menarik nafas lega saat Diah bersedia mengganti jilbabnya. Semula, Ia menggunakan jilbab putih yang sepadan dengan busana muslimah warna biru. Tetapi beberapa menit sebelum tampil, panitia lokal bersikeras untuk menukar penutup kepalanya dengan jilbab berwarna orange. Panitia bersikukuh ini aturan yang wajib diikuti peserta. Diah menolak sambil menangis.

Baginya ini bentuk teror yang mengintimidasi. Ada kesengajaan untuk merusak konsentrasinya. Maklum, hubungan Indonesia dan Malaysia memiliki rivalitas yang terus memercik bara permusuhan. Tak hanya di bidang politik dan tapal batas, perseteruan itu juga sengit di sepak bola, bulu tangkis, budaya hingga ajang lomba membaca Al Quran. Diah adalah tumpuan Indonesia bersama qori asal Padang – Hamri Lubis. Sudah sangat lama, Indonesia tak jadi juara satu MTQ level dunia.
Beruntung Diah tak goyah. Kakinya mantap menapaki mimbar. Dengan sangat tenang sambil membayang wajah penuh senyum kedua orang tuanya yang telah lebih dulu dipanggil pulang oleh Allah, dari mulutnya meluncur dengan indah ayat demi ayat dari surah Ali-Imran ayat 110 – 119.
“Kuntum khaira ummatin ukhrijat linnaasi taamuroona bilma’roofi wa tanhawna ‘anil munkari wa tu’minoona billah, wa law aamana ahlul kitaabi lakaana khairal lahum minhumul mu’minoona wa aksaruhumul faasiqoon.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.