Di sinilah, kajian, dan data pendukung menjadi begitu penting untuk menakar perilaku menyimpang tersebut, termasuk mempertimbangkan munculnya norma-norma yang tidak lazim.

Akumulasi dari hadirnya kekerasan itu boleh jadi akibat ketidak-seimbangan pada hubungan-hubungan sosial, misal : status sosial, kekayaan, dan akses terhadap sumber daya, serta kekuasaan yang tidak adil mengakibatkan berbagai persoalan : diskriminasi, pengangguran, kemiskinan, tekanan, dan kejahatan hadir dan meluah.

Pada pemikiran ini, maka hadirnya kasus kekerasan di berbagai tempat menunjukkan lemahnya daya kohesi sosial kita dalam merespon berbagai perubahan yang ada. Perubahan-perubahan sosial yang terjadi di sekitar kita justru menguji nilai-nilai kultur dan ajaran agama yang selama ini kita agungkan : menghormati dan menghargai sesama, patuh pada orang yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, taat pada aturan, dan sebagainya. Nilai-nilai kultur tersebut ternyata begitu mahal kita dapatkan saat ini, ketika antara sesama kita saling berlomba memperebutkan kepentingan, entah ekonomi, maupun politik.

Penguatan

Yang patut menjadi perhatian ekstra adalah institusi keluarga. Sebagai benteng pertahanan paling mendasar, institusi keluarga merupakan ujung tombak untuk meredam perilaku menyimpang setiap anggotanya melalui penanaman nilai-nilai (internalisasi) yang kuat dan terus menerus menanamkan norma-norma kebaikan.

Melalui institusi keluarga, kontrol sosial itu dibangun, terutama kepada anak-anak. Bersama-sama dengan norma-norma yang ditumbuhkan di tengah kelompok masyarakat –termasuk institusi agama– seorang individu akan diajarkan untuk memiliki rasa empati, jauh dari sikap manipulatif, angkuh, impulsif, dan jauh dari upaya menipu nalar antar sesama.

Kita menyadari, selama ini kehidupan masyarakat berada di tengah perkembangan kapitalisme dan teknologi yang telah membuat “locus of power” di dalam masyarakat begitu tersebar dan menjadi liar. Di mana-mana hadir kekuatan ekonomi dan kekuatan lain yang saling tarik-menarik. Otonomi daerah yang menjanjikan kesejahteraan, perebutan kekuasaan yang meninggalkan deretan dendam politik, himpitan kebutuhan ekonomi di tengah angka kemiskinan dan pengangguran yang makin melambung, serta longgarnya keteladanan yang menjadi role model bagi warga seolah menjadi sesuatu yang mahal ditemukan akhir-akhir ini.