“Bahkan 100 lebih tulisan dari teman-teman pers dan pemerhati sosial yang sudah viralkan persoalan ini, namun sampai 2023 kami belum bisa merasakan layaknya pelabuhan,” kesalnya.

Ia juga mengeluhkan kondisi pelabuhan “Cuma Mimpi” seperti yang diparodikan oleh para komika Ternate itu. Pasalnya, jika ombak datang, perahu motor kesulitan berlabuh.

“Ini adalah upacara pertama kali dilakukan di Maluku Utara, dan ini sebagai bentuk protes kepada Pemkot Ternate karena tak bisa menyelesaikan pembangunan dermaga Hiri,” tegasnya.

Pengibaran bendera setengah tiang ini juga, lanjut dia, sebagai bentuk kekecewaan bagi pemerintah.

“Saat ini belum ada transparansi dan prioritas bagi masyarakat Hiri. Dan ini juga jadi motivasi buat kami masyarakat Hiri, agar terus mendorong pemerintah dalam pembangunan di Ternate, khususnya di Pulau Hiri,” tandasnya.