Ketiga, bahwa Ganjar Pranowo tidak memiliki ambisi pribadi untuk menjadi presiden. Sementara itu Prabowo Subianto telah berulangkali menunjukkan ambisinya sejak mengikuti konvensi Capres Partai Golkar 2004, menjadi Cawapres Megawati Soekarnoputri 2009, Capres 2014 dan 2019. Sedangkan Anies Baswedan telah menunjukkan ambisinya untuk menjadi presiden dengan mengikuti konvensi Capres Demokrat 2014.

Keempat, bahwa Ganjar Pranowo adalah tokoh politik yang sudah pernah menjadi tokoh nasional sebagai Anggota DPR RI. Namun memilih pulang kampung menjadi tokoh lokal, sebagai Gubernur Jawa Tengah. Jauh dari hiruk pikuk berita nasional. Sementara itu Prabowo Subianto, sebagai anak menteri, dan menantu presiden, hingga menjadi Danjen Kopasus, Panglima Kostrad, Cawapres, Capres, Ketum Gerindra, kemudian menjadi Menteri Pertahanan RI selalu ada dalam pusaran nasional. Sedangkan Anies Baswedan, sejak jadi rektor Universitas Paramadina, ikut Konvensi Partai Demokrat, Timses Jokowi, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, hingga jadi Menteri Pendidikan dan saat ini Capres Nasdem juga selalu berada di tingkat  nasional.

Kelima, bahwa Ganjar Pranowo berani menyatakan sikap yang tegas dengan menolak penggunaan lambang dan bendera negara, serta lagu kebangsaan Israel yang direncanakan digunakan di pertandingan Piala Dunia FIFA U20 di Indonesia. Sementara itu Prabowo Subianto sebagai Menteri Pertahanan RI dan Ketum Gerindra sekaligus Capres Gerindra tidak berani menyatakan sikap apapun. Sedangkan Anies Baswedan yang sudah menjadi Capres Nasdem memilih bungkam. Keduanya membangun narasi memisahkan olahraga dengan politik. Ganjar Pranowo menjadi pihak yang disalahkan karena FIFA membatalkan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U20 FIFA.

Keenam, bahwa Ganjar Pranowo lebih sering menggunakan bahasa ibunya, bahasa Jawa dalam berkomunikasi dengan publik. Sementara itu Prabowo Subianto dan Anies Baswedan pernah tinggal di luar negeri. Keduanya juga selalu menunjukkan kemampuan menggunakan bahasa asing, dan menunjukkan kemampuan bergaul dengan dunia luar.

Ketujuh, bahwa Ganjar Pranowo tidak mampu menggunakan sentimen SARA, eksploitasi ikatan-ikatan primordial, politik identitas dalam Pileg maupun Pilkada yang diikutinya. Sementara itu Prabowo Subianto dalam dua kali Pilpres menggunakannya secara terbuka. Begitu juga dengan Anies Baswedan yang berhasil memenangi Pilkada DKI Jakarta dengan politik identitas dan sentimen SARA, dan eksploitasi ikatan- ikatan primordial.