Tentunya, kata Ira, pemerintah daerah juga harus bersama komunitas ini terus memberdayakan generasi untuk melek bahasa daerah.

“Kalau bukan generasi saat ini, siapa lagi akan melestarikan bahasa daerah Tidore? Oleh karena itu, pemerintah daerah juga harus turut bersama komunitas ini menggerakkan kesadaran kepada generasi pentingnya bahasa Tidore sebagai identitas diri,” tegasnya.

Terpisah, pemerhati budaya (pekerja seni dan sastra) Maluku Utara Zainuddin M Arie saat memberi kesan di akhir kegiatan mengapresiasi pembentukan komunitas
penerjemahan bahasa Tidore.

“Kita perlu satu kondisi menghadirkan satu wadah, mewakili perasaan teman-teman kita harus follow up setelah dari kegiatan pelatihan bimbingan teknis penulisan dan penerjemahan cerita anak digelar Kantor Bahasa Maluku Utara ini, kita bikin forum atau kelompok yang meneruskan pelajaran ini. Mohon Kantor Bahasa memberikan perhatian dan alhamdulilah teman-teman dari Tidore mereka biking dua hal menerjemahkan cerita dan menentukan langkah-langkah dan strategis ke depan,” harapnya.

Selain teman-teman yang berasal dari Tidore, ia berharap teman-teman lain membentuk wadah yang sama.

“Dan ini bisa diteruskan di luar dari teman-teman Tidore kita semacam memiliki forum itu. Dan kita bisa bertemu kapan saja,” tandasnya.