Fakta ini telah mencerminkan paradoks politik. Pilkada yang sejatinya harus lebih akuntabel dan yang terpilih dapat memperbaiki semua aspek kehidupan justru termanipulasi oleh politik rente. Saya malah yakin, 2024 tidak ada sosok yang lebih ksatria dan siap menjadi tokoh politik sejati yang bebas bertarung tanpa sponsor. Tidak ada kandidat yang berani buka-bukaan soal kondisi keuangan politiknya. Semua omong kosong politik para calon kepala daerah di Maluku Utara pada gilirannya sama sekali tidak memuaskan publik.

2024 bertarung tanpa sponsor? Berani nggak? (*)