Oleh: Hudan Irsyadi

Dosen FIB Unkhair & Direktur SiDeGo

_______

MALUKU Utara secara sosiopoltik dapat dikatakan masih “terjajah”. Hal tersebut didasari atas dasar sumber daya alam yang didominasi para pekerja Cina (kekuasaan asing) berdasarkan ikatan politik maupun ekonomi.

Dalam catatan sejarah, sumber daya alam Maluku Utara (Moloku Kie Raha) berupa cengkih dan pala telah membawa rakyatnya menjadi sejahtera dan makmur. Komoditi rempah (cengkih dan pala) yang merupakan produk monokultur telah menjadi tulang punggung atas sebuah kemakmuran rakyatnya.

Seiring berjalannya waktu, negeri rempah hanyalah romantisme masa lalu yang mengalami repetisi bagi para penguasa negeri ini. Baik itu di ruang-ruang seminar, parlementer, maupun warung kopi. Sekarang ini saat melirik pertambangan.

Bahkan, maraknya eksploitasi pertambangan yang diikuti dengan izin usaha pertambangan (IUP) di Maluku Utara, sedikit membelokkan cita-cita generasi muda yang dipupuk sejak bangku sekolah dasar. Hal tersebut dapat dilihat dari animo para siswa lulusan sekolah menengah atas untuk melanjutkan studi di bangku kuliah, dan lebih memilih bekerja di perusahaan pertambangan.

Rupanya, ada yang salah dari cara berpemerintahan kita. Ataukah ada “sesuatu” dari melimpahnya sumber daya alam khususnya pertambangan ataukah kita (masyarakat) yang bodoh dan mau terus dibodohi. Wallahu alam.