Dari alur cerita itu, barangkali menambah deretan para bakal calon legislatif dari kalangan anak muda. Di Tidore termasuk pergerakan kalangan muda lumayan banyak yang akan bertarung di kursi DPRD. Itu bisa dilihat dari gaya mereka, jadi manajer bola, penggerak event, sampai dengan menjadi ketua komunitas-komunitas bahkan menjadi guru ngaji bisa.

Tidak ada yang salah, itu sah-sah saja. Namun terlalu lucu kalau semua itu hanya menjadi anomali bahkan menjadi cerita dari tahun-tahun sebelumnya. Kita membutuhkan anak muda yang punya daya saing yang kuat, secara kebijakan atau aturan dia paham, memahami kemajuan teknologi, punya visi membangun pergerakan anak muda kreatif, punya kontribusi terhadap daerah dari berbagai sektor, mampu memberikan arahan untuk melihat ke mana suatu kota akan diminati orang untuk datang ke daerahnya. Saya yakin mereka pasti ada setelah membaca tulisan ini, bisa jadi.

Otokritik menjadi satu pokok pikiran mendasar dari bagaimana penulis melihat keluar di tengah-tengah masyarakat. Kehadiran seorang anggota DPRD sebenarnya lebih mulia kalau hari-hari mencari solusi di masyarakat, ehhh justru yang ada membuat kegaduhan. Maka dari itu kita patut bersedih ketika mendengar seorang anggota DPRD tertangkap selingkuh.

Jika fakta membuktikan seperti itu, sebenarnya sudah tidak perlu lagi kita membutuhkan anggota DPRD. Kita sebenarnya hanya membutuhkan politik sebagai kebijakan, bukan DPRD sebagai perusak moral bangsa. Partai-partai seharusnya memberikan solusi, bukan terus menjadi dongeng di masyarakat. Politisi itu kalau dikritik jangan tersinggung, tapi justru kuat mental agar tidak menjadi paradoks dan saling menyalahkan.