Di sisi lain, sektor pertanian yang pada tahun 2017 masih berkontribusi sebesar 24 persen hanya dalam waktu empat tahun menjadi hanya sebesar 18 persen. Perubahan struktur ekonomi yang terjadi dalam waktu relatif singkat merupakan buah dari investasi di sektor pertambangan nikel yang sangat masif dalam beberapa tahun terakhir.

Sebagai contoh, nilai investasi di kawasan Weda Bay akan mencapai sekitar Rp 150 triliun dalam beberapa tahun ke depan di sisi lain nilai APBD Halmahera Tengah sendiri hanya di kisaran Rp 1,5 triliun. Perubahan ini apabila tidak dikelola dengan baik dapat menjadi permasalahan tidak hanya di bidang ekonomi dan pembangunan namun juga sosial. Bukan tidak mungkin Maluku Utara akan terjebak dalam kutukan sumber daya alam, nantinya setelah mineral yang saat ini ada telah habis dieksplorasi.

Kutukan sumber daya alam (natural curse) merupakan fenomena yang terjadi di banyak negara. Salah satu contoh klasik terjadi di Nauru, sebuah negara kepulauan kecil di wilayah Pasifik yang kaya akan fosfat dan pada tahun 1970-an mulai diekstraksi secara besar-besaran oleh perusahaan-perusahaan asing dari Inggris, Australia, dan Selandia Baru. Pertumbuhan ekonomi membumbung tinggi, bahkan pada tahun 1980 pendapatan per kapita Nauru mencapai 50 ribu dollar, tertinggi kedua di dunia.

Namun itu tidak dirasakan lama. Pada tahun 1990-an fosfat di Nauru telah jauh berkurang dan dinyatakan tidak ekonomis lagi untuk ditambang. Tidak hanya kehabisan resource, Nauru dinyatakan tidak layak huni karena 90 persen wilayahnya hanya menyisakan lubang-lubang dan tumpukan sisa tambang sehingga tidak mendukung untuk dibangun hunian ataupun pertanian.

Selain Nauru, kutukan sumber daya alam telah terjadi di banyak negara seperti di Afrika, Timur Tengah, dan Amerika Latin. Ekstraksi sumber daya alam yang tidak selalu menghasilkan kemakmuran juga terjadi di berbagai wilayah di negara kita sendiri, bahkan mungkin yang paling dekat ada di Pulau Gebe yang dulunya pernah menjadi penghasil nikel terbesar bagi salah satu BUMN tambang, berakhir di 2004 dan sekarang masih menyisakan masalah lingkungan dan kemiskinan.

Industri ekstraksi sumber daya alam, jika dilihat dari perspektif keadilan antar generasi merupakan hutang generasi sekarang bagi generasi yang akan datang. Kran investasi industri pertambangan nikel di Maluku Utara telah dibuka, tentunya dilatarbelakangi oleh tujuan untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat secara umum.