Budaya literasi menjadi hal yang sangat fundamental. Melalui literasi kita akan mewujudkan masyarakat berpengetahuan, inovatif, kreatif, dan berkarakter. Literasi harus terus didorong agar masyarakat kita berkualitas di dalam hidupnya yang pada gilirannya akan dapat meningkatkan kesejahteraannya.
Penguasaan literasi yang mumpuni akan membantu setiap orang secara personal dan komunal dalam menghadapi dunia virtual yang kian hari makin kompleks. Oleh karenanya, peningkatan budaya literasi dilakukan dengan mencakup peningkatan gemar membaca di masyarakat, peningkatan perbukuan dan konten literasi, serta peningkatan akses layanan dan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial.
Capaian koleksi serah simpan karya cetak dan karya rekam pada 2022 sebanyak 2.939.008 eksemplar yang tersebar di Perpusnas dan perpustakaan di daerah-daerah. Hal ini mengindikasikan bahwa rasio yang dihasilkan dibandingkan dengan jumlah penduduk di Indonesia yaitu 1 berbanding 90. Artinya, satu buku ditunggu oleh 90 orang. Masih kurang jika merujuk pada standard UNESCO, yaitu satu orang membaca tiga buku baru per tahun.
Guna mendorong tingkat kegemaran membaca dan budaya literasi, maka ada beberapa hal yang dapat dilakukan, yang kami sebut sebagai 4K & 1G: Pertama, Keluarga (K pertama). Membudayakan gemar membaca secara dini dalam keluarga. Ibu bisa memainkan perannya sebagai duta literasi keluarga dengan menanamkan kegemaran membaca pada buah hatinya di tengah gempuran pengaruh gawai.
Kedua, Kegiatan kepenulisan (K kedua). Membangun dan menumbuhkan tradisi membaca dan menulis melalui penyelenggaraan kegiatan kepenulisan seperti workshop/pelatihan menulis.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.