Sehingga itu, gap antara generasi ini membutuhkan pemahaman yang jauh lebih kompleks, sebab sebagai orang tua yang menempatkan atau menerapkan aturan ketat terhadap anak menggunakan smartphone bukanlah cara yang cukup bijak menurut saya. Ini serupa kita mengurung anak dari zaman yang kita ketahui bersama arus zaman sangat sukar dilawan.
Bimbingan orang tua dan mengawasi anak-anak dalam mengarungi dunia digital yang punya sisi mencerahkan dan menyesatkan adalah tanggung jawab kita sebagai orang tua. Sejauh ini Kaicil Rade telah mengetahui lebih nama-nama dinosaurus lebih banyak dari saya dan semuanya itu diperoleh dari internet.
Selanjutnya dari literasi digital ini diharapkan Kaicil Rade mengetahui lebih banyak lagi, semua yang mudah diakses dan mampu memilah dan memilih mana yang baik dan dibutuhkan dalam hidupnya di tengah tsunami informasi yang begitu kencang. Sebagai orang tua memberikan apresiasi kepada pemerintah yang mendukung dan membuat terobosan inovatif dalam kemudahan akan akses literatur digital.
Mungkin pada paragraf ini yang menjadi poin penting adalah sebagai ibu dari Kaicil Rade yang kini telah memasuki usia sekolah PAUD, adalah mengjarkan terkait bagaiman bijak dalam menggunakan perangkat teknologi yang dia punya pada jalan yang benar, dan menunjukkan jalan mana yang tak boleh dilalui.
Terakhir untuk Kaicil Rade dan abang-abang di atasnya, sebagai orang tua, kami harus mahfum dengan apa yang dituliskan oleh seorang sastrawan besar kelahiran Libanon Kahlil Gibran dalam bukunya Sang Nabi.
“Anakmu bukanlah milikmu.
Berikan rumah untuk raganya, tetapi tidak jiwanya
Karena jiwanya milik masa mendatang
Yang tak bisa kau datangi
Bahkan dalam mimpi sekalipun”. (*)


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.