Sekarang kembali ke masa kini, ke Kaicil Rade putra sulungku yang masih berusia 5 tahun yang sedang bergebu-gebu rasa ingin tahunya. Dia lebih suka handphone daripada buku, setiap diperkenalkan dengan buka maka yang terjadi selanjutnya adalah buku itu disobek atau dibuang.
Hal ini sebenarnya dapat dilacak penyebabnya, karena anak adalah peniru terbaik dalam hidup, sehingga apa yang dilihatnya akan menjadi contoh yang dituro olehnya, children see children do.
Kaicil Rade melihat sekelilingnya asyik dengan HP sehingga itu yang juga menjadi perhatian dia, apalagi dia telah memiliki tontonan favorit yang sering dia jumpai saat memegang HP. Tentu sebagai orang tua memiliki kekhawatiran akan dampak buruk dari penggunaan gawai pintar itu pada anak, tetapi hal ini juga tak dapat dihindari, terkecuali kita dan lingkungan benar-benar berhenti menggunakan alat yang saat ini tak dapat terpisahkan dari kita.
Lalu bagaimana nasib buku sebagai gudang ilmu, gudangnya literasi bagi manusia untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan, yang pada era ini mulai ditinggalkan oleh generasi zaman now yang berpindah kepada sarana internet sebagai gudang atau tepatnya samudera pengetahuan yang sangat ramai.
Bergesernya pola ini pernah dijelaskan oleh Marc Prensky pada tahun 2001 lalu. Dia menjelaskan rata-rata generasi kelahiran tahun 2000 sangat akrab dengan smartphone sehingga secara sosiologis bahwa generasi yang lahir di era digital dikenal sebagai pribumi digital (digital natives) dan kita yang kelahiran tahun 90-an ke bawah atau tepatnya sebelum teknologi digital digunakan secara masif adalah generasi pendatang di dunia digital (digital immigrants).


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.