Sedangkan penduduk yang bermata pencaharian di sekitar pesisir pantai atau di laut dengan lokasi permukiman di pesisir pantai diistilahkan dengan ito ho atau dalam Bahasa Tidore dimaknai sebagai dorong ke arah laut.

Untuk filosofi gura isa yakni peradaban terbangun dan tersusun dari komunitas kaum tani yang bermukim di perbukitan seputaran Kota Tidore khususnya di Kelurahan Rum.

Istilah ini pun pernah dipopulerkan oleh salah satu putra kelahiran Rum, Nurdin Safrudin, saat mencalonkan diri sebagai Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tidore tahun 2014 lalu dengan membawa moto gura isa. Salah satu alasan istilah ini diangkat sebagai daya tarik merebut hati masyarakat kala itu karena adanya kesenjangan antara masyarakat pesisir dan masyarakat gura baik itu dari sisi
lapangan kerja penempatan pejabat di daerah. Sehingga ia mencoba memberi solusi dari kesenjangan yang terjadi. Namun, sayangnya dewi fortuna belum berpihak kepadanya.

Hingga saat ini, warga setempat masih familiar dengan kata gura isa. Dengan tulisan sederhana ini, generasi dituntut untuk memaknai sebuah istilah tersebut dan selalu merawat ciri khas setempat agar tidak terjadi penetrasi kebudayaan. (*)