Para pekerja juga mengaku tak dilengkapi alat keselamatan saat bekerja.
“Tidak ada. Ini sampe kemarin ada yang kaki bangka karena tatindis deng pipa yang biasa pake bacor itu. Dong hanya kase biaya pengobatan Rp 20 ribu,” sambung pekerja itu.
Kontraktor pelaksana kegiatan rekanan, Opik, ketika dikonfirmasi terkait ambruknya teras gedung mengaku salah dan khilaf.
“Kita salah, khilaf. Kemarin komunikasi yang salah antara bagian teknik dengan orang di lapangan. Kita tetap tanggung jawab bikin sampai selesai,” ujarnya.
Kepala Dinas PUPR Morotai M Jain A Kadir yang dikonfirmasi terpisah menjelaskan ambruknya teras rektorat itu lantaran tenaga kerja tidak mengikuti arahan dari pihak teknik.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.