Dedy pertama mengamen di dekat kampus. Selesai kuliah, ia mampir lampu merah Gejayan. Hidupnya sering di jalanan dan sempat jadi anak punk.
“Berambut gimbal, lubang telinga, cuma tidak bertato karena kulit gelap. Tapi saya pernah jadi Sekjen Dewan Mahasiswa sebelum berubah jadi BEM saat ini. Saya aktif ngamen semester III hingga wisuda bahkan lanjut S2. Selama ngamen saya bermain jimbe, lagu yang sering dibawakan lagu dinamika sosial,” katanya.
Selama kuliah, Dedy mendapat jatah Rp 300 ribu per bulan. Ia gunakan untuk keperluan kuliah. Sedangkan untuk kebutuhan sehar-hari memakai hasil ngamen.
“Papa meninggal tahun 2019. Jabatan terakhirnya dulu Tata Usaha Museum Purbakala. Karena sering ikut bapak, saya hafal sekali alat ukur seperti teodolit sehingga tertarik di jurusan yang saya tekuni sekarang,” jelas ayah satu anak ini.
“Ada pesan almarhum sampai saat ini saya ingat, yaitu jadilah terbatas (limited), jangan jadi orang banyak,” imbuh Dedy.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.