“Saya lolos di Geodesi kampus lain, tapi DP uang pembangunannya zaman itu Rp 30 juta. Saya jawab ke tim bahwa saya belum ada uang dan belum waktunya di sini,” kenangnya.

Dedy lalu kembali mengayuh sepeda menuju kampus lain. Ia melewati sebuah gang kecil dan tak sengaja melihat papan bertuliskan jurusan Geologi.

“Saya ikut tes di situ, alhamdulillah lolos di Institut Sains dan Teknologi AKPRIND, jurusan Geologi spesialisnya bidang minyak dan gas bumi. Tidak ada jurusan lain di kampus, semua mahasiswanya lelaki,” sambungnya.

Tuntutan hidup membuat Dedy harus putar otak mencari pemasukan selain mengharapkan kiriman dari orang tua. Apalagi saat itu tak ada ATM.

“Kebetulan saya dekat dengan beberapa teman pekerja seni. Di situ saya mulai aktif ngamen,” tutur suami Vanny Kansil ini.