“Lokasi Distro Sampah sudah kami sediakan tempat pengolahan sampah untuk dijadikan kompos. Ini sangat tradisional sekali, beranjak dari gerakan kepemudaan,” imbuh Zandry.

Dalam satu bulan pertama ini, pengurus Distro Sampah lebih fokus pada penanganan sampah rumahan. Bulan-bulan selanjutnya akan konsisten untuk pembuatan kompos dan produksi pupuk kompos yang sudah diolah untuk diberikan ke rumah-rumah agar diolah masyarakat sendiri untuk keperluan menanam bunga atau sayur-mayur.

“Intinya relasi dan solidaritas pemuda adalah bagian dari kesadaran untuk sama-sama kita peduli soal sampah tersebut,” ujarnya.

Selanjutnya dalam program berkelanjutan, Distro Sampah juga melakukan pengembangan program dengan bekerja sama dengan tim Sadakah Sampah, yaitu dengan menjual hasil produksi sampah yang sudah dihasilkan dengan membeli totebag sebagai edukasi masyarakat mengurangi penggunaan kantong plastik.

“Kami akan buat gerakan namanya Rampok Plastik setelah semua sudah jalan program Distro Sampah tersebut. Intinya dalam memberikan edukasi di masyarakat memang membutuhkan ruang-ruang kolaborasi yang masif,” imbuh Zandry.

“Perlu kami informasikan juga untuk Koloncucu sendiri adalah wilayah yang memanjang dari pantai sampai dengan gunung, artinya tidak semua sampah bisa terangkut. Ini yang kemudian kami ajak warga untuk terlibat dalam program Distro Sampah,” kata dia.