Dengan adanya Distro Sampah, kata dia, diharapkan ada trigger untuk pemuda ikut menangani sampah.
“Dan kebetulan dalam program ini kita bekerja dengan Bank Indonesia (BI) Maluku Utara. Ada juga keterlibatan komunitas seperti Enjoy Ternate,” terangnya.
Bentuk program yang dijalankan adalah membagikan tempat sampah organik dan non organik ke masing-masing rumah di Koloncucu.
“Kota Ternate dalam persoalan sampah tidak bisa hanya memakai pendekatan buang lalu angkut kembali. Dalam sehari saja produksi sampah yang dihasilkan masyarakat itu sudah sampai 80 ton. Data ini kami dapatkan dari DLH. Belum lagi yang berada di barangka-barangka. 80 ton itu kalau dalam sebulan bisa sampai 2.100 ton sampah yang ada di Kota Ternate,” urai Zandry.
Lewat Distro Sampah, pemuda Koloncucu berusaha jadi pionir penyumbang sampah paling sedikit dibanding kelurahan lainnya. Zandry bilang, minimal 30 persen sampah dibuang ke tempat pembuangan sampah, sedangkan 70 persennya disumbangkan untuk dikelola di Koloncucu.
“Kami memakai pendekatan member. Sudah 50 rumah terdaftar di Distro Sampah yang terbagi setiap rumah ada dua tempat sampah dengan pemilahan sampah mandiri organik dan non organik. Tiap 2 hari tim Distro Sampah akan datang ke rumah warga masing-masing untuk mengangkut sampah tersebut lalu diproses menjadi kompos,” jabarnya.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.