Menariknya, ini pertama kalinya Tidore diberikan kepercayaan menyelenggarakan event nasioal bertajuk kebudayaan musik tradisi oleh Kemendikbud.

Dalam FMTI ada sekitar 5 lagu yang akan ditampilkan secara keseluruhan dengan kombinasi instrumental seperti rababu, fiol, tifa, seruling dan beberapa alat musik lainnya.

Di antaranya lagu Naro Oti, Kabata Juanga Borero, Cako Non, dan Biso-biso. 5 lagu tersebut mengandung makna yang berbeda-beda.

“Kalau dilihat secara makna yang lebih dalam lagu-lagu tersebut adalah peristiwa dari kesadaran spiritual orang Tidore terhadap makrokosmos yang ada hubungan manusia dengan alam dan kehidupan sosialnya,” ujar Ade.

Ia menambahkan, harapan terbesar dari terselenggaranya FMTI di Tidore tidak terlepas dari tema yang diangkat yakni selalu diberi keberanian (Marasante).

“Membawa spirit pergerakan kebudayaan sebagai identitas nilai-nilai lokal orang Tidore. Yang terpenting dari semua itu adalah bagaimana pelaku budaya, anak muda, pekerja kreatif, mampu membawa kesadaran dan bersinergi terhadap upaya pemajuan daerah, dan Tidore sangat siap melangkah lebih ke depan terutama untuk kebudayaan,” tandas Ade.