“Kita BPD justru berharap agar diaudit biar jelas. Lagian karateker dan bendahara ini tidak pernah terbuka soal ini. Jadi bagusnya Inspektorat turun langsung, atau dipanggil keduanya untuk mintai keterangan,” harapnya.

Ia menyayangkan mangkraknya proyek tersebut. Sebab seharusnya tahun ini anak-anak sudah masuk sekolah di situ. Saat ini anak-anak usia dini di desa itu masih bersekolah di balai desa.

Menurut Faisal, ia sempat mendapat informasi mangkraknya proyek disebabkan tukang meminta dibayar upahnya 100 persen sebelum melanjutkan pekerjaan.

“Cuma belum dikasih makanya tukang tidak mau kerja. Kalau saya sih bayar 100 persen sudah bisa, karena pekerjaannya sebagian besar sudah selesai. Yang ada kan tinggal pasang plafon, pasang tegel, dan dicat saja, selesai. Tapi sudahlah, itu tanggung jawab mereka berdua,” cetusnya.

Sekretaris Desa Usbar Pantai, Sahjid Ibrahim, yang dikonfirmasi terpisah mengaku tidak tahu menahu soal proyek tersebut.

“Soal PAUD tanya langsung di karateker dengan bendahara, kita semua (aparatur desa) tidak tahu soal itu. BPD juga tidak tahu. Lagian selama ini keduanya tidak sampaikan kendalanya apa,” tandasnya.