Menurut Prof. Dr. Sri Edi Swasono, nilai kebersamaan adalah sebuah kebutuhan hidup alami manusia, bahkan telah menjadi pandangan hidup praktis manusia dalam hidup bermasyarakat dan juga bernegara. Nilai ini semakin bermakna dengan sebuah asas kekeluargaan. Kata Sri Edi Swasono, Indonesia adalah satu keluarga, yang di dalamnya ada rasa cinta kasih dan itu yang menguatkan. Dalam kekeluargaan, ikatan batin atau saudara dengan saudara yang lain menjadi perekat kebersamaan. Ikatan batin sudah ada sejak lama bagi penduduk Fagogoru yang terdiri dari Maba, Patani dan Weda.
Substansi Fagogoru merupakan pandangan hidup sebagai wujud kemanusiaan yang sebenarnya. Mempererat kasih sayang antara warga yang didasari dengan delapan nilai karakter. Fagogoru pada prinsipnya untuk menjaga kebersamaan, saling menghormati dan tidak dihadapi dengan sikap arogan. Sebab, tradisi ini mengandung nilai Budi re Bahasa (Kebaikan dan Santun Berbicara) sebagai laksana satu tubuh, saling membantu yang susah sebagai rasa kasih sayang, hubungan yang hangat, dan saling merasakan. Saling rendah hati, bertutur kata dengan bijak, bukan saling merendahkan dan menghinakan antar sesama.
Warga Fagogoru harus saling menyayangi dan bergaul dengan penuh kehangatan dan kekompakan sebagaimana mengandung nilai Ngaku re Rasai. Jika masyarakat yang rawan terhadap perpecahan antar kampung/desa, aksi kekerasan, saling menyerang di media sosial, tawuran antar pelajar yang mengakibatkan ketidaharmonisan bahkan merugikan diri sendiri. Apalagi terjadi khasus pemerkosaan hingga ada yang meninggal dunia, seperti yang dialami seorang remaja asal Desa Tepeleo, kasus pembunuhan di Gunung Damuli yang hingga sampai saat ini identitas pelaku belum terungkap, kemudian banyak kasus yang saling lapor ke kantor kepolisian karena bermula dari medsos dengan ujaran kebencian dan saling ejekan sesama.
Delapan nilai karakter ini menjadi ikatan yang kuat untuk menjaga rasa kemanusiaan atau biasa disebut oleh masyarakat Fagogoru adalah kata “Faisayang” ini memiliki perasaan senasib dalam pembangunan di bumi Fagogoru. Kata Faisayang tidak hanya bermanfaat bagi satu keluarga dan ikatan organisasi saja, namun juga bermanfaat bagi birokrasi dan legislatif.
Pengalaman kepala daerah Gubernur, Bupati, Wali Kota bersama wakilnya, serta wakil rakyat terjadi keharmonisan hanya bertahan antara enam bulan hingga satu tahun pemerintahan. Sesudah itu, mulai muncul konflik dan hubungan mereka menjadi tidak harmonis. Ketidakhamonisan itu biasanya diakibatkan karena kurangnya saling komunikasi, saling memfitnah terhadap sesama, memberikan stigma negatif kepada warga setempat, konflik kepentingan, dan tidak memahami tugas masing-masing.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.