Sejumlah kayu bakar disiapkan. Nyalakan api. Kumpulkan semangat. Batangan bulu berisi nasi jaha disusun miring. Mengapa miring? Agar beras ketan dan santan kelapa tidak tumpah ke luar. Panas api terus membara. Asap kayu pelan-pelan membuat saya menangis. Rasanya perih ketika menatapnya, tetapi kami terus membantu membakar nasi jaha.
Di sela-sela pembakaran, kami mendengar cerita dari Redys.
Asap tebal saat itu tak membuat kami menyerah. Redys mengajak saya dan Faisal tetap diam dan merekam pembicaraannya.
“Biasanya pembuatan nasi jaha sesuai dengan hari. Kalau dibuat hari Rabu, pemasarannya pada hari Kamis. Sedangkan di hari Sabtu, proses pemasarannya di hari Minggu. Sedangkan di bulan Ramadan, kebanyakan pembuatan nasi jaha akan dibuat setiap hari dengan berbagai macam jenis nasi jaha,” kata Redys.
Setiap bulu nasi jaha yang dibakar tidak dipastikan berapa jumlahnya, dan itu tergantung jumlah ruas bambunya. Nasi jaha yang dibuat saat ini, tergantung permintaan masyarakat atau konsumen yang ingin memesan. Tetapi dalam proses pembuatan nasi jaha terdapat berbagai macam jenis, seperti nasi jaha jagung dan nasi jaha beras ketan. Kebanyakan yang dipasarkan bebas (tanpa pemesanan sebelumnya) adalah nasi jaha beras ketan.
“Kalau jumlah nasi jaha untuk dipasarkan, mulai 20-30 ruas bambu dengan harga bervariasi, per bulu sebesar Rp 30 ribu – Rp 45 ribu, tergantung ukurannya,” jelas Redys.
Hampir sebagian besar masyarakat di Kota Tidore Kepulauan menyukai nasi jaha. Mereka biasanya pesan atau membeli langsung di Pasar Rum. Selain dipasarkan di Pelabuhan Rum, ada yang pesan untuk acara sunatan, kawinan, atau tahlilan. Yang pesan bahkan ada yang dari Kota Ternate, Jakarta, dan Makassar.
“Kebanyakan yang pesan nasi jaha dari Kota Ternate, Ubo-ubo, sebanyak 150 ruas bambu nasi jaha,” ungkap Redys.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.