Di tembok dinding kamar Danum ada Puisi Z-nya Goenawan Muhammad.
“Di bawah bulan Marly dan pohon musim panas, Ada seribu kereta-api menjemputmu pada batas.
Mengapa mustahil mimpi, mengapa waktu memintas. Seketika berakhir berahi, begitu bergegas.
Lalu jatuh daun murbei dan air mata panas. Lalu jatuh daun murbei dan engkau terlepas”
Danum adalah penghormat Mas Goen, penikmat Catatan Pinggir di tiap minggu Tempo. Mimpinya suatu waktu aku akan diajaknya menikmati purnama Bulan Marly, menyusuri Kahayan. Di sana, menjadi guide Mas Goen melihat daun murbei yang abadi.
***
Kuturuti saja perintahnya sesampai di kos tadi.
“Nginap saja di sini om, BTP masih jauh. Nda usah berlagak mo ko tolak nah. Tapi awas kalo macam-macam ko,” Ultimatumnya diikuti dengan mengunci leher motor Beat-ku dan berlalu menuju kamarnya.
Sekarang sudah jam 5 lewat sedikit, alarm HP Danum berbunyi.
“Kenapa nda tidur ko?”
“Nda bisa tidurlah, ngorokmu pa. Kencang sekali hee,”
“Masa Indra? Nda mungkin hee,”
Kami pun tertawa. Aku terus meledeknya.
“Sembayang subuh yuk,”
“Num, ko kan tahu saya atheis. Hahaha,”
“Nda lucu, cepat ko wudhu, ko imam. Ayo cepat,”
“Nda bisalah beribadah dipaksa-paksa. Sana sembahyang, terus ko doakan ka semoga dapat ka hidayah biar,”
Dengan jengkel Danum mengambil wudhu.
“Orang sembahyang itu harus khusuk, nda boleh marah-marah,”
Danum menghiraukanku, ia terlihat khusuk dalam doanya.
***
Tidur tidak pernah semudah itu. Di suatu malam tahun 2014, sangat jarang aku mendengar suara yang terdengar agak kencang tetapi dibiarkan saja. Apalagi di kawasan perumahan yang orang-orangnya begitu egois.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.