Pengerjaan jalan dan jembatan tersebut sudah diusulkan Pemerintah Desa Saminyamau ke Pemerintah Kabupaten Morotai. Hanya saja usulan yang berkali-kali itu tidak direspon.

“Tong so usul ke Bupati Morotai dan bapak-bapak dewan tapi sampe hari ini belum ada tanggapan,” sambungnya.

Material yang telah disiapkan warga untuk Program Teras Kementerian PUPR namun belakangan dipindahkan ke desa lain. (Tandaseru/Irjan Rahaguna)

Senada, Niston, warga Pulo Rao menyampaikan kondisi jalan dan jembatan membuat anak-anak terhambat saat pergi ke sekolah.

“Banyak anak sekolah dari Leo-leo, Lou Madoro, Aru, semua sekolah di SD Unggulan ini tapi jembatan dan jalan itu yang parah sehingga anak-anak sekolah kesulitan,” terangnya.

Selain itu, sambungnya, warga juga mengeluhkan pembatalan Program Teras dari Kementerian PUPR di Desa Posi-posi Rao.

“Padahal masayarakat so kase siap samua material secara swadaya. Pasir deng batu di muka-muka rumah tapi kase pindah semua, dia pindah di kampong-kampong lain. Padahal itu tara bisa,  tapi dia (Bupati, red) intervensi kong warga Pulo Rao kecewa semua. Akhirnya sampe sekarang tara jalan-jalan proyek ini,” jelasnya.

Ia menambahkan, ada pula satu guru yang merangkap dua jabatan kepala sekolah.

“Dia merangkap dari Leo-leo dan Posi-posi Rao sini, tapi di Posi-posi Rao ini jarang masuk,” ujar Niston.

Sekolah yang kepala sekolahnya rangkap jabatan. (Tandaseru/Irjan Rahaguna)

Menerima keluhan-keluhan tersebut, Wabup langsung menghubungi dua kepala dinas, yakni Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang dan Dinas Pendidikan.